Tangani Gangguan Bipolar dengan Sikap dan Tindakan Positif

Oleh Tarjum

Ilustrasi: flexmedia.co.id

Beberapa waktu yang lalu saya menulis status berikut ini di grup facebook “Solusi Bipolar” :

Alhamdulilah, saya bersyukur klo dari waktu ke waktu grup ini semakin sepi. Artinya semakin sedikit member grup ini yang punya masalah psikis. Artinya pula, semakin banyak member yang mulai pulih, bisa mengelola suasana hatinya, bisa “Berdamai dengan Bipolar” (seperti judul ebook saya) dan bisa berdamai dengan diri-sendiri. Semoga demikian adanya.

Seperti biasa ada komentar dari teman-teman member grup. Yang pertama dari Anna Husien Geboy, salah seorang survival bipolar yang suka nulis status dan komentar blak-blakan, disusul komentar Rully Ramdhany, survival bipolar juga. Berikut rekaman percakapan singkat kami di grup Solusi Bipolar.

Anna Husien Geboy: Malu kang Tarjum ngeluh terus, mendingan dinikmati aje..

Tarjum: Mpok Anna, betul dinikmati aja, semua itu anugerah dari-Nya juga, hanya mungkin cara pandang kita yang berbeda. Yang merasa sudah pulih, silakan share pengalamannya kepada teman-teman yang masih dalam proses pemulihan, saling bantu dan menguatkan. Klo ceritanya panjang, dibikin ebook atau buku biar bisa menyebar lebih luas dan menjangkau ke polosok negeri, sampai ke daerah terpencil sekalipun.

Rully Ramdhany: Saya juga sebenarnya masih ada masalah, tapi ya gimana lagi... ini udah suratan takdir buat saya. Mengeluh nggak akan membuat persoalan saya selesai... ya udah lebih baik disyukurin aja, toh pada akhirnya semua akan kembali ke haribaan-Nya. Maaf mas Tarjum saya nggak bisa menulis, jadi cuman begini uneg-uneg saya. Dikatakan sakit juga enggak, dikatakan sehat juga nggak. Ada solusinya mas Tarjum?

Tarjum: Mas Rully, nih buktinya bisa nulis. Saran saya, pertama terima dan syukuri apa yang terjadi dengan diri kita. Tetap ikhtiar dan berdo’a, karena pemulihan butuh proses. Bagikan apa yang kita tahu atau pengalaman kita mengatasi gangguan jiwa kepada yang lain. Ketika orang lain senang dengan apa yang kita bagi, kita juga senang. Akumulasi kesenangan-kesenangan kecil itulah obat mujarab untuk pemulihan problem psikis kita. Gali dan kembangkan potensi diri kita, karena itu juga akan membuat kita bahagia dan makin positif.

Seperti yang saya tulis di atas salah satunya. coba perhatikan diri sendiri. Lihat kekurangan dan kelebihan diri. Coba gali potensi diri yang mungkin selama ini belum dikembangkan. Cari tahu apa yang anda sukai atau hobi yang belum dikembangkan. Jalani semua aktivitas itu dengan sepenuh hati, kalau bisa sampai berprestasi. Lakukan aktivitas yang positif dan jangan membiarkan diri makin terfuruk, terlena dalam kemalasan atau menarik diri dari lingkungan pergaulan. Intinya lakukan aktivitas dan jangan berdiam diri.

Dari obrolan di atas, saya coba manarik kesimpulan. Problem kehidupan apa pun, termasuk diantaranya problem kejiwaan, harus dicari solusi penanganannya dan segera bertindak untuk mengatasinya. Tak cukup hanya mengeluh atau meratapi nasib buruk yang menimpa kita. Yang terpenting dari semua usaha mencari solusi dan mengatasi gangguan kejiwaan, khususnya gangguan bipolar, adalah cara kita menyikapi apa yang terjadi pada diri kita. Sikapi apa yang terjadi dengan cara yang positif.

Jangan berpikir dan bersikap negatif terhadap diri sendiri. Salah satu diantara sikap negatif penyandang bipolar adalah menstigma diri sendiri. Tanggung jawab panuh penanganan dan pemulihan gangguan jiwa ada di tangan kita sendiri. Jadi mulailah dari diri sendiri untuk berpikir, bersikap dan bertindak positif.

Tak lupa saya ucapkan “SELAMAT TAHUN BARU 2014”.

Mari kita awali tahun baru yang penuh harapan ini dengan sikap dan cara pandang yang positif.

    




Kekhawatiran Seorang Ibu yang Puteranya Mengalami Bipolar

                                        Ilustrasi: www.health.liputan6.com/sockmd.com

Di grup facebook Solusi Bipolar, saya membaca status kekhatiran seorang ibu yang puteranya didiangnosa mengidap gangguan bipolar. Berikut kutifan curhat ibu Lilis Setiawati, di dinding grup:

Sepulang rawat inap diagnosa terakhir anak saya yang ditulis dokter di surat kontrol paska perawatan yaitu Skizofrenia Hebefrenik / Skizoafektif tipe Manik. Di kasih obat cuma Hallo dan Thp untuk satu minggu. Sampai di rumah terjadi prilaku aneh, baju hampir habis di bagi-bagi, salaman terus dan sedekah terus.

Kontrol berikutnya saya minta mood stabilizer, alhamdulilah prilaku aneh berkurang tapi waham makin banyak. Kontrol berikutnya di kasih rizodal, alhamdulilah kondisinya sekarang membaik, gak bagi-bagi baju lagi tapi bagi-bagi permen ke anak-anak. Besok mau kontrol lagi.

Seorang member grup, Abahriza Mohamad, memberi nasihat yang menguatkan, “Kuncinya sabar Bu, berusaha terus kontak dengan psikiater dan terakhir berdo’a. Saya juga pernah mengalaminya.”

Saya juga ikut memberi masukan untuk ibu Lilis, sebuah saran spontan yang saya tulis di kolom komentar. Saran yang saya tulis di bawah ini adalah kutifan dari komentar di grup, tapi sudah saya lengkapi dengan tambahan beberapa hal, terkait upaya membantu proses pemulihan penderita gangguan bipolar.

Jika dia suka olahraga, lebih bagus olahraga permainan, coba diarahkan agar dia punya lebih banyak waktu untuk menekuni hobi olahraganya tapi tetap dimonitor. Pengalaman saya, olahraga cukup efektif menyalurkan gejolak emosi dan energi yang meluap ke dalam aktivitas fisik.

Mengapa memilih aktifitas fisik sebagai media menyalurkan semangat yang meluap dan membubung tinggi? Karena dalam aktivitas fisik seperti olahraga (lebih bagus olahraga permainan yang meliabatkan team), bukan sekedar melakukan olah fisik, tapi juga olah mental dan interaksi sosial.

Buat ibu Lilis, butuh kegigihan dan kesabaran ekstra mendampingi dan membantu pemulihan penderita gangguan jiwa seperti yang di alamai putra tercinta. Dia butuh perhatian, cinta dan kasih sayang seorang ibu yang tiada bandingannya. Tapi menyayangi bukan berarti memanjakan dan menuruti semua keinginannya. Ibu harus tetap mengajari dan melatih dia disiplin menjalani terapi dan mengkonsumsi obat kalau memang dianjurkan psikiater.

Dulu ketika saya berada di puncak gangguan bipolar, saya merasakan betul betapa dukungan, pendampingan dan kesabaran ayah saya sangat membantu saya bertahan. Kesabarannya yang luar biasa, memberi saya kekuatan dan motivasi untuk terus berusaha memulihkan kondisi psikis.

Tapi, disaat-saat tertentu dia juga tegas. Dia tetap menyuruh saya sekolah dan bekerja. Dia juga menyuruh saya bersosialisasi dan membuka diri. Lebih detail soal bagaimana peran ayah dalam membantu saya pulih dari gangguan bipolar, sudah saya paparkan secara gamblang di buku/ebook “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”.

Kontrol dan konsultasi rutin dengan psikiater perlu terus dijalani, sambil mengedukasi dan memberi pemahaman yang benar kepada sang putera, bagaimana seharusnya dia menjalani terapi dan pengobatan. Setelah dia memahami apa yang terjadi dengan dirinya semoga pada saatnya dia juga menyadari dan menerima dengan ikhlas apa yang terjadi dengan dirinya.

Jika dia sudah sadar dan bisa menerima diri apa adanya, proses pengobatan akan lebih mudah dan lebih efektif. Proses pemulihan kondisi psikisnya pun akan lebih cepat. Karena yang terpenting dari pengobatan gangguan jiwa adalah ada keinginan yang kuat, semangat, antusiasme dan optimisme dari si penderita untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan yang normal.

Demikian, artikel singkat ini mencoba memberi solusi praktis tentang bagaimana mendukung dan mendampingi penderita gangguan bipolar menjalani terapi dan pengobatan.
Semoga artikel ini bermanfaat.

Salam sehat jiwa.



    




Mengendalikan Perubahan Mood ODB dan Peran Obat



Beberapa orang rekan ODB (orang dengan bipolar) dan ODMK (orang dengan masalah kejiwaan), suka curhat via email, inbox facebook, telepon dan SMS. Beragam masalah yang mereka curhatkan.

Sebagian curhat tentang kesulitan bergaul, sebagian lagi tentang kesulitan mengelola moodnya, yang lain tentang kekhawatiran kecanduan obat dan yang lainnya tentang bagaimana cara agar segera pulih dari gangguan jiwa.

Kali ini saya akan membahas tentang kesulitan mengelola mood bagi seorang bipolar. Teman-teman ODB yang curhat mengenai hal ini, sebagian besar sudah pernah konsultasi ke psikiater dan sudah atau sedang mengkonsumsi obat. Mereka, rata-rata khawatir efek kecanduan dari obat. Mereka juga khawatir kalau sampai harus minum obat terus-menerus seumur hidup.

Sebagian dari mereka memilih untuk menghentikan konsumsi obat dengan alasan harga obat yang mahal atau merasa tidak ada perubahan yang berarti setelah minum obat selama jangka waktu tertentu.

Berikut penjelasan saya untuk pertanyaan diatas:

Pertama, soal mengelola mood

Harus diakui dan disadari sepenuhnya oleh ODB, bahwa proses untuk menyetabilkan mood perlu waktu, perlu kesabaran dan perlu usaha terus-menerus. Tak ada jalan pintas, prosesnya harus dijalani setahap demi setahap. Saya sering mengatakan ini di facebook, sms atau telepon. Yang penting monitor perkembangannya, ada penurunan gak intensitas fluktuasi moodnya?

Pengalaman saya dulu, pada puncaknya perubahan mood saya terjadi dalam hitungan minggu. Seminggu depresi dan seminggu manik. Lalu mulai menurun seminggu depresi dua minggu manik. Makin menurun, seminggu depresi 3 seminggu manik. Sampai akhirnya, sebulan sampai dua bulan saya tak merasakan fluktuasi mood.

Penurunan fluktuasi mood tersebut berjalan perlahan dan bertahap, berjalan sekitar satu tahun. Setelah itu apakah perubahan mood tersebut sudah tak terjadi lagi? Masih, tapi dalam intensitas yang makin menurun. Dan saya bisa merasakan perubahan itu walaupun perlahan.

Kedua, soal kekhawatiran kecanduan obat

                                                     Ilustrasi: karya Fariska Apriyani

Saya memang tidak pernah memakai obat, tapi sering konsultasi dengan psikiater, rekan-rekan ODB dan aktivis keswa tentang sejauh mana fungsi obat dalam mengendalikan perubahan mood. Saya mendengar penjelasan meyakinkan dari seorang psikiater yang dikenal dekat dengan pasiennya, dr. Hervita Diatri, SpKJ. Saya biasa menyapa beliau dr. Vita atau Mbak Vita.

Menurut dr. Vita, kurang lebih begini, konsumsi obat sifatnya hanya sementara, untuk memberi kesempatan kepada ODB belajar mengelola moodnya. Kalau ODB yang bersangkutan sudah bisa mengendalikan moodnya, konsumsi obat bisa dikurangi bahkan dihentikan secara bertahap. Obat yang diresepkan psikiater, tergolong aman dan tidak menimbulkan efek kecanduan.

Jadi kesimpulannya, mengendalikan dan menyetabilkan perubahan mood itu, perlu waktu dan proses. Demikian pula, untuk menghentikan penggunaan obat, juga perlu waktu dan bertahap, tak bisa sekaligus.

Artikel ini merupakan jawaban saya untuk pertanyaan teman-teman ODB soal pengendalian mood dan pemakaian obat. Semoga penjelasan singkat ini bisa difahami.

Salam sehat jiwa.

    




Perdebatan Sengit Soal Penyebab Manik

Oleh Tarjum


Ilustrasi: rzero92.blogspot.com


Ketika membuka grup facebook “Solusi Bipolar” yang saya kelola, saya menemukan status seorang member perempuan (LT) seperti ini:

“Percaya ga, hypermanik tuh kita kemasukan jin/ makhluk astral/makhluk halus?”

Status tersebut mendapat komentar dari seorang member perempuan (AL) yang mengangap penyebab hypernanik bukan jin tapi penyebab ilmiah yang bisa dideteksi secara medis. Maka terjadilah komentar saling berbalasan antara si penulis status dengan sang komentator.

Awalnya cuma saling mengemukakan pendapat, tapi makin ke bawah malah jadi perdebatan sengit. Yang diperdebatkan adalah soal penyebab manik pada seorang ODB. Si penulis status tetap bersikukuh, bahwa penyebab hypermanik/manik yang dirasakannya adalah karena kerasukan jin atau mahluk halus.

Berikut sebagian komentar debatnya saya kutif:

AR: Yg km rasa kyknya waham curiga deh

LT: Aku paranormal dan aku ga bohong, Ren. Yang bohong itu oknum. Aku masuk RSJ sebelum ngerti beginian

LT: Bukan curiga, Ren. Aku dah belajar supranatural ampir 6 tahunan tapi baru ngeh sekarang

AR: Hal hal yang berkaitan dengan jin, penampakan, suara suara, itu masuknya waham dan halusinasi tiana, hati hati salah persepsi.

LT: Yang bilang halusinasi itu DOKTER YANG GA BISA LIAT JIN, jangan percaya gitu aja sama dokter, Ren.

AR: Kenyataannya emang begitu, halusinasi pendengaran, halusinasi penglihatan, halusinasi penciuman dan perasaan ada yg ngeraba itu berasa nyata banget buat penderitanya tapi setelah diobati akhirnya sadar kalo itu cuma halusinasi tiana. Buktinya nggk ada tuh yg mati karena dibunuh jin

LT: ADA YANG MATI KARENA KENA GUNA-GUNA, TAPI RATA-RATA LEBIH SUKA NYIKSA DULU, MEREKA LEBIH PUAS.

LT: NYATA KARENA EMANG ADA, DOKTERNYA AJA YG BEGO NYEBUT ITU HALUSINASI. COBA KE DOKTER SEMBUH BRP LAMA?

LT: Rata-rata 2 tahun kan paling ga? Dalam jangka selama itu, yang nyantet kita udah males ma kita

AR: Kayaknya itu cuma di film deh, ato salah persepsi misalnya yg kanker ato tumor akut dibawa ke dukun, dibilangin karena santet padahal sudah bener2 kritis harus diobati jadinya meninggal..
LT: Kalo ruqyah/ ke dukun/ kyai/ smacamnya, sekali juga udah sembuh. Tapi ya itu, bisa dikirin lagi

LT: ITU DI KEHIDUPAN NYATA JUGA, BUKA HATI BUKA MATA BUKA TELINGA.

LT: JANGAN BERPALING DARI KEBENARAN YANG DISAMPAIKAN KALO GA MAU DIADZAB

LT: Gw bilang kaya gini karna gw sayang sama lu, Ren. Kalo ga sayang mah ngapain bilang...

AR: Kayaknya km lg manik tiana, itu waham curiga lagian siapa kita sampe orang mau nyantet. Manik itu siklus bukan kiriman jin. Lebih baik ke psikiater dan minum obat daripada ke paranormal dan dibuat paranoid sama orang orang.

LT: Terserah kamu deh, Ren. Yang penting aku udah bilang. MAU PERCAYA GA PERCAYA GA URUS.

Itulah ujung dari perdebatan dua orang member Grup Solusi Bipolar. Masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya sendiri dan terkesan memaksakan pendapatnya kepada teman chatnya.

Karena tak ingin membiarkan perdebatan tersebut semakin sengit, saya coba menengahi kedua member tersebut dengan menulis komentar yang saya pikir tak memihak ke salah satu pihak. Ini dia komentar saya:

Dua-duanya benar, tapi dari sudut pandang yang berbeda. LT, benar bahwa hal-hal gaib itu memang ada. Benar juga bahwa ada orang yang disantet karena iri atau sakit hati. Benar juga ada orang yang mengalami gangguan jiwa karena mahluk gaib. Tapi tidak bisa digeneralisir bahwa setiap yang mengalami gangguan jiwa atau face hypernanik/manik dalam contoh kasus ini disebabkan oleh hal-hal gaib seperti jin, mahluk halus dan sejenisnya.

Seperti yang saya alami, gangguan bipolar saya bukan karena hal gaib tapi memang karena gangguan psikis. Salah satu penyebabnya mungkin karena ketidak-seimbangan biokimiawi dalam otak, walaupun hal ini belum bisa dibuktikan secara medis.

AR, juga benar, bahwa sebaiknya orang yang mengalami gangguan jiwa dibawa ke psikiater dan ditangani secara medis. Dan dari pengalaman saya pribadi juga teman-teman bipolar dan skizo yang lain--yang pernah juga ditangani paranormal dan kyai--ternyata lebih efektif penanganan secara medis. Tapi, memang ada juga pengecualian yang pulih setelah ditangani secara non medis.

Jadi gak usah diperdebatkan, LT dan AR punya keyakinan dan argumentasi masing-masing. Mengemukakan pendapat boleh tapi jangan memaksakan pendapat kita kepada orang lian, Hargai pendapat orang lain dan jadikan khasanah untuk memperkaya pemahaman kita.

    




Stop! Perdebatan dan Hujatan Tanpa Memberi Solusi

Tanggapan saya untuk komentar-komentar kritis dari kalangan yang anti-psikiatri sudah jelas.

Kritik, saran, masukan, dialog bahkan perdebatan sekalipun, jika arah dan tujuannya untuk mencari solusi penanganan bipolar, saya hargai.

Harapan Kepada Tamu Blog

Saya berharap tamu-tamu blog ini tak saling memojokan, menyalahkan apalagi menghujat, tapi saling mendukung, saling membantu dan bekerjasama untuk memberikan informasi dan mencari solusi nyata penanganan gangguan bipolar.
Selengkapnya silakan baca posting ini “Solusi Apa yang Bisa Anda Berikan untuk Penanganan Gangguan Bipolar?”


Tujuan Blog

Tujuan dan harapan saya membuat blog ini adalah untuk berbagi informasi, pengetahuan, pembelajaran dan pemahaman yang proporsional tentang gangguan bipolar kepada publik khususnya di ranah maya. Fokusnya adalah mencari solusi terbaik penanganan gangguan bipolar.
Selengkapnya silakan baca “Tentang Blog Solusi Bipolar”


Mengapa saya mengangkat komentar-komentar kritis dari kalangan “anti-psikiatri”?

Bukan untuk memicu kontroversi atau perdebatan tanpa ujung, tapi untuk mengundang para ahli memberikan komentar dan masukan agar informasinya berimbang antara yang pro dan anti-psikiatri. Dari informasi tersebut saya percaya para pembaca bisa memilih dan memilah pendapat mana yang bisa diikuti dan mana yang tidak.

Di dunia yang semakin terbuka saat ini apalagi di dunia maya yang sudah mengglobal dan tak lagi terhalang batas negara dan wilayah, kita tak bisa membendung derasnya arus informasi. Yang penting kita punya filter, untuk menyaring informasi mana yang akan kita pilih dan sesuai dengan kebutuhan kita.


Batasan Komentar Blog


Saya tidak melarang pengunjung blog ini untuk memberi komentar-komentar kritis, selama itu bermanfaat, tidak melanggar sara, hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Selama komentar itu masih dalam batas-batas etika dan kewajaran, saya masih mentolerir.

Tapi, jika komentar-komentar di blog ini sudah melanggar batasan-batasan tersebut di atas, maka saya akan bertindak tegas dengan menghapusnya. Karena kebebasan tetap ada batasnya, tidak boleh mengganggu kebebasan dan hak orang lain.


Saling Menghargai

Saya menghargai anda sekalian para pengunjung blog Solusibipolar.com, tapi saya pun berharap anda sekalian menghargai saya sebagai pemilik blog. Ibaratnya, sebagai tuan rumah saya ingin semua tamu yang berkunjung ke rumah saya merasa nyaman. Saya harap para tamu saya saling menghargai dan menghormati. Saya menghargai anda dan saya harap anda pun menghargai saya.

Kalau ada beda pendapat, silakan diskusikan dengan santun, karena saya percaya anda sekalian orang-orang yang terdidik dan terpelajar.

Berdiskusi untuk Memberi Solusi


Silakan berdiskusi secara sehat untuk saling berbagi dan memberi solusi penanganan bipolar. Bukan saling menghujat dan memojokan. Dan tujuan dari diskusi dan perdebatan itu adalah untuk mencari solusi terbaik penanganan bipolar.

Jadi, jika anda punya solusi, jangan ragu untuk berbagi.

Atas pemahaman dan pengertian anda sekalian, saya ucapkan terima kasih.

    




Apakah Gangguan Bipolar Mempengaruhi Kecerdasan, Kemampuan Berpikir dan Konsentrasi?

Seorang wanita (sebut saja Siska), menanyakan beberapa hal terkait gangguan bipolar yang dialaminya.

Berikut pertanyaanya :

Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan Pak Tarjum, apakah bipolar mempengaruhi kecerdasan berpikir dan kemampuan berkonsentrasi ya pak, soalnya sebelum saya menderita bipolar saya tergolong cerdas dan kemampuan konsentrasi serta memori saya cukup kuat, namun sekarang ini saya merasa sangat lamban berpikir sulit konsentrasi dan mudah sekali lupa pada hal-hal yang saya pelajari...

Ini mempengaruhi kinerja saya sehari-hari apalagi di tempat saya bekerja,...saya sepertinya kurang cakap dalam menalar sesuatu apalagi sesuatu yang baru yang harus saya pelajari di perusahaan...ini membuat saya tertekan.

Saya juga sudah mendengar audio wawancara tersebut pak (audio wawancara saya dengan RNW), saya memang tidak terbuka mengenai bipolar kepada teman-teman di kantor karena saya takut ini akan mempengaruhi penilaian atasan terhadap saya, alias saya takut dikeluarkan dari pekerjaan saya karena dianggap menderita kejiwaan, sedangkan saya butuh mencari nafkah untuk diri saya dan untuk membantu keluarga saya. Bagaimana menurut Bapak?

Terimakasih atas jawabannya.


Jawaban saya untuk Siska via email :

Soal apakah bipolar mempengaruhi kecerdasan berpikir dan kemampuan konsentrasi, saya belum pernah membaca lebih jauh tentang hal ini. Mungkin hal ini masih diteliti lebih lanjut oleh para pakar di bidangnya. Anda bisa konsultasi dengan psikiater anda mengenai hal ini.

Dulu, saya pun sempat berpikir seperti anda, “Jangan-jangan kecerdasan saya menurun!”

Berdasarkan pengalaman saya lebih dari 5 tahun menderita bipolar, bipolar tidak mempengaruhi tingkat kecerdasan saya. Kalau dikatakan bahwa bipolar mempengaruhi kecerdasan, saya pikir terlalu berlebihan. Karena otak adalah organ tubuh yang sangat luar biasa komplek dan rumit yang diciptakan Tuhan.

Sampai saat ini para ahli belum bisa mengungkap lebih jauh tentang misteri otak manusia ini.

Kalau anda merasa kecerdasan dan kemampuan konsentrasi anda menurun itu hanya pikiran negatif terhadap diri-sendiri. Anda tersugesti dengan keyakinan anda bahwa kecerdasan anda menurun dan itu mempengaruhi kepercayaan diri anda dalam bekerja dan bersosialisasi di lingkungan kerja anda.

Memang ada dampak negatif dari bipolar yang anda alami terhadap kemampuan berpikir, berkomunikasi, bersosialisasi, berkonsentrasi, menganalisa dan menjalani tugas-tugas kerja anda. Tapi itu sifatnya sementara, bisa diperbaiki dan ditingkatkan seiring pemulihan kondisi psikis anda.

Kecerdasan bukan hanya diukur dengan IQ atau kecerdasan intelegency, ada kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, kecerdasan linguistik dan jenis kecerdasan lainnya.

Salah satu efek negatif dari gangguan bipolar yang saya alami adalah kemampuan komunikasi verbal. Saya pernah gagap bicara dan ini membuat saya sangat rendah diri. Kondisi ini membuat saya malu untuk ikut berbicara dalam obrolan dengan teman-teman sebaya di lingkungan pergaulan maupun di tempat kerja.

Namun saya bertekad, untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kemampuan komunikasi saya. Saya mencoba untuk nimbrung dalam obrolan dengan teman-teman walaupun ucapan saya kadang gagap dan terbata-bata. Saya berusaha mengatasi rasa malu dan rendah diri dengan lebih banyak bergaul dan berkomunikasi. Hasilnya, secara bertahap saya bisa mengatasi rasa rendah diri saya, kemampuan berbicara saya pun semakin baik.

Soal membuka diri kepada rekan kerja tentang gangguan bipolar anda, kalau memang anda belum siap dan sikon di tempat kerja belum memungkinkan, jangan dipaksakan. Anda bisa membuka diri secara bertahap sesuai kondisi psikis dan kesiapan mental anda.

Penilaian atasan bukan berdasarkan pada apakah anda pernah mengalami gangguan bipolar atau gangguan jiwa lainnya, tapi berdasarkan kinerja anda. Yang terpenting, tunjukan kualitas diri dan kemampuan anda manjalankan tugas-tugas kerja anda. Terus belajar dan berlatih untuk meningkatkan kemampuan anda di segala bidang. Tunjukan kemampuan terbaik, prestasi kerja dan keunggulan anda dibanding karyawan lain.

Jika kualitas kerja anda memang unggul, saya yakin atasan anda tak akan peduli apakah anda bipolar atau tidak. Rekan kerja dan atasan anda akan menghargai prestasi kerja anda.

Orang yang sehat secara fisik dan mental pun jika kualitas kerjanya jelek, perusahaan manapun tak akan mau mempekerjakannya. Jadi, yang terpenting kulitas diri dan kinerja anda. Dan semua itu bisa dipelajari, diperbaiki dan ditingkatkan.

Anda punya pendapat lain tentang pengaruh gangguan bipolar terhadap tingkat kecerdasan? Silakan sampaikan di komentar.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Solusi Apa yang Bisa Anda Berikan untuk Penanganan Gangguan Bipolar?

Fokus dari blog ini adalah mencari “solusi terbaik” penanganan gangguan bipolar.

Informasi yang saya sharing di blog ini, baik itu pengalaman pribadi, metode terapi dan pengobatan, informasi seputar gangguan bipolar dan hal-hal lain terkait gangguan bipolar, tujuannya adalah untuk memberikan informasi dan pemahaman yang benar tentang apa dan bagaimana gangguan bipolar serta bagaimana solusi penanganannya.

Memang sampai saat ini belum ditemukan metode terapi atau pengobatan terbaik untuk mengatasi gangguan bipolar. Karena itu, seperti nama blog ini “Solusi Bipolar”, saya mengajak semua pihak (ODB, keluarga ODB, aktivitas keswa, profesional bidang keswa dan psikiatri serta siapa saja yang peduli terhadap masalah gangguan kejiwaan khususnya gangguan bipolar) untuk bersama-sama mencari solusi terbaik penanganan bipolar.

Jadi fokus dari blog ini adalah mencari solusi!

Kritik, saran, masukan, dialog bahkan perdebatan sekalipun, jika arah dan tujuannya untuk mencari solusi penanganan bipolar, saya hargai.

Saya berharap tamu-tamu blog ini tak saling menyalahkan apalagi menghujat, tapi saling mendukung, saling membantu dan bekerjasama untuk memberikan informasi dan mencari solusi nyata penanganan gangguan bipolar.

Selama ini, dengan keterbatasan informasi, pengetahuan, fasilitas dan terutama dana, ODB dan keluarganya berusaha dengan segala cara untuk menangani gangguan bipolar yang mereka alami. Ada yang menempuh jalan pengobatan medis, ada juga yang menempuh jalan pengobatan alternatif. Ada yang sudah berhasil mengatasi gangguan bipolar, tapi lebih banyak yang masih bergumul dengan bipolar.

Teman-teman ODB, keluarga dan orang-orang terdekatnya menunggu solusi terbaik penanganan gangguan bipolar dari anda sekalian!

Mereka tidak bisa menunggu segala sesuatunya sempurna. Mereka tidak bisa menunggu besok atau nanti.

Mereka butuh bantuan dan solusi segera!

Saat ini!

Solusi apa yang bisa anda berikan untuk mereka? Silakan berbagi di komentar.

Jika anda sekalian punya informasi yang lebih lengkap dan mendalam tentang solusi penanganan bipolar atau pengalaman pribadi mengatasi bipolar, silakan kirim ke email admin Solusibipolar.com : sivalintar@yahoo.com.

Terima kasih atas kesediaan anda sekalian untuk berbagi.

Foto : www.washingtonvoices.com

    




Komentar Kritis untuk Dialong Kritis tentang Bipolar (Bagian 2)

Komentar dari 2 Orang Dengan Bipolar (ODB)

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya. Artikel tersebut juga banyak mendapat komentar, baik komentar langsung di blog maupun di grup facebook.

Kali ini saya akan menampilkan komentar dari dua orang teman bipolar, keduanya perempuan. Mereka menulis komentar di grup facebook “Solusi Bipolar”. Saya suka berbagi dan bertukar pikiran dengan mereka bardua.

Berikut komentarnya :

Cevi :
Saya dulu gak tahu saya bipolar. tapi setelah saya tahu saya bipolar, saya depresi, lalu akhir-akhirnya saya pinter ngomong sama orang kalo saya itu bipolar dan hidup saya rumit, dan orang-orang itu harus mengerti keadaan saya karena saya bipolar. Sementara saya? Saya gak perlu bertoleransi dengan keadaan mereka karena mereka normal dan bukan bipolar. dan mereka ga tahu bagaimana menderitanya saya ditakdirkan hidup sebagai seorang bipolar.

"Enak ya orang-orang bipolar, selalu bisa seenaknya ngomong, lalu teriak-teriak lo gak tahu apa-apa tentang hidup gue! sementara dia bebas ngejudge hidup orang lain seenaknya, padahal dia pun gak tahu apa-apa hidup orang lain itu kayak apa." Itu kata temen saya kepada temen saya yang lain, seorang bipolar yang suka bawa-bawa nama penyakitnya dan teriak-teriak lebay, "You have no idea how cruel the God is,... giving me life with this fuckin bipolar!"

Saya ga bilang ke mereka kalo saya pun bipolar, bukan karena temen saya yang bipolar itu tingkah lakunya menyebalkan, tapi karena saya yakin mereka gak akan percaya kalo saya juga bipolar. Tapi tanggapan mereka itu jadi satu cermin buat saya.

Sementara cermin lain disodorin sama pacar saya. Kalo saya mulai mendramatisir keadaan, dia bakal bilang begini, "Lebay ya lebay, drama ya drama, norak ya norak, gak terima kenyataan ya gak terima kenyataan, lo jangan pake itu topeng bipolar lo buat ngebuat semua pembenaran atas kekonyolan lo ga terima idup lo seperti apa?! lo pikir cuma lo sendiri yang susah?! nooooh keluar sana, liat tuh muka orang-orang capek naik busway di jam pulang kerja!"

Orang bipolar cenderung membesar-besarkan masalah, termasuk masalah kebipolaran mereka. Sebenarnya ya emang ga serumit itu. Boleh nuduh saya sotoy, tapi saya juga bipolar. Saya sudah sangat berpengalaman memperbesarmasalah dan melebaysyalala masalah saya sampe saya cape juga akhirnya main drama.

Sebenarnya saya tahu masalah emang ga sebesar itu, tapi saya yang tidak mampu mengendalikan diri saya dan terus menerus panik hingga akhirnya masalah yang sebenarnya cuma sekecil lubang jarum mungkin bisa-bisanya jadi sedahsyat black hole dalam kepanikan saya.

Tapi saya juga masih dalam proses sih. Bukan proses penyembuhan karena saya sesungguhnya tidak sakit. Bukan pun dalam proses pemulihan karena saya tidak rusak. saya masih dalam proses mengenal diri saya lebih baik, belajar untuk mengendalikan diri. Dan tahun ini, saya pun belajar untuk mempertanggungjawabkan apapun atas nama saya pribadi bukan atas nama apapun yang sebelumnya melabel diri saya. Ya kalo memang lagi lebay ya lebay, saya lebay. Kalo memang lagi sotoy ya, saya sotoy. Tapi itulah saya.

Saya suka sekali sebagian besar tanggapan tuan, nyonya, nona anonim ini. Bagaimanapun tanggapan itu mungkin dinilai sangat ektrem bertentangan dengan tanggapan orang lain kebanyakan.

Oh ya satu lagi. Dulu saya juga nge-judge dokter amat parah. Saya pernah berantem sama dokter dan maki-maki salah satu dokter saya dengan mengata-ngatakannya Freudian Musyrik gak punya iman, ketika saya ngalor ngidul tentang betapa terganggunya jiwa saya dan itu disebabkan oleh ‘warisan-luluhur’ yang saya tolak harus saya ‘warisi’.

Saya diresepkan obat yang waktu itu saya tanya itu obat apa, salah satu dokter bilang itu obat supaya saya tidak lagi berhalusinasi. Mungkin karena lagi manic, saya malah marah-marah dan bilang kalau dokter pun menuduh saya berhalusinasi dan dia tidak percaya dengan apa yang saya ucapkan, sampai saya terbersit menyuruh apapun ‘barang-barang yang mendatangi saya itu pergi datang ke dokter itu dan membuatnya gila.’

Sepakat kan kalo yang lagi parah itu saya?

Nah, saya pun butuh waktu yang cukup lama uuntuk memahami pekerjaan psikiater dan mencoba menempatkan diri saya dalam sudut pandang mereka. Di luar segala politik perdagangan obat yang diungkapkan si entahlah anonim ini, saya belajar untuk menempatkan diri saya sebagai orang yang ga tahu apa-apa dan sewajarnya gak sok tahu terhadap hidup orang lain (toh, karena saya juga gak mau orang pun sok tahu tentang hidup saya).

Dokter melakukan hal-hal yang demikian adalah karena mereka dokter dan begitulah kewajiban profesi mereka. Bila seseorang telah memutuskan untuk datang dan berobat ke dokter, maka dokter akan harus melakukan kewajibannya sebagai dokter—yaitu meresepkan mereka obat-obatan, karena kalau tidak, maka artinya ia bukan dokter, dan saya rasa itu bertentangan dengan kode etik profesi mereka bila seorang pasien datang pada mereka malah dikasih semprotan air bawang putih, ‘ya kan?

Kita pun harus belajar memahami peran masing-masing manusia dalam kehidupan, bukan membuat-buat pembenaran atau mencari-cari kesalahan siapa benar siapa salah, atau siapa yang lebih baik dari siapa.

Setiap keputusan uuntuk menempuh jalan pengobatan masing-masing adalah keputusan masing-masing individu itu berdasarkan kepercayaan terbaik yang datang dan untuk diri mereka sendiri. Kalo memang yang sudah berobat ke dokter dan merasa capek dengan pengobatan tersebut, lalu komplen terus menerus obat ga menyembuhkan? Kenapa mereka ga cari jalan lain yang lebih dapat menenangkan jiwa mereka, bukan malah komplain terus menerus seperti orang bodoh, mencari-cari kesalahan obat seperti orang kurang kerjaan yang marah-marah pada dinding karena ga tahu harus marah pada siapa lagi.

Lalu, kalau yang sudah merasa tenang dengan apapun pilihan penyembuhan mereka di luar jalur pengobatan dokter, kenapa harus merepotkan orang-orang yang lebih memilih mempercayai dokter dalam menangani masalah kejiwaan mereka?

Kita hidup di dunia ini ga bisa seragam. dan karena ketidakseragaman itu timbullah kehidupan. Bayangkan aja kalo semua orang laki-laki siapa yang mau melahirkan? Bayangkan aja kalo bumi ini tanah semua, gimana kita hidup? Setiap apapun dan setiap orang sudah pegang peran masing-masing. Ada air ada api, ada penjahat ada alim ulama, ada tanah ada udara, ada presiden ada rakyat jelata, ada laki-laki ada perempuan, ada dokter ada pasien. Lalupun diantara itu akan ada apapun yang hidup mengantara dan diantaranya.

Kalo sepanjang tahun yang telah berganti kita terus memperdebatkan tentang pengobatan bipolar dan segala polemik yang ada di antaranya, ya kita gak akan bergerak-bergerak melihat masalah yang lebih penting dari sekedar masalah ‘jalan-penyembuhan’ itu.

Oh ayolah, bau taun baru masih segar. Masih belum terciumkah aroma keharusan untuk berubah menjadi lebih baik? :-)

Walaupun ini sharing mungkin overdosis dan bikin pegel buat dibaca, saya pun cuma seseorang yang memainkan peran saya berbagi sudut pandang :-)

Tarjum :
Makasih Cevi untuk urun-rembugnya. Setiap individu memang punya keunikan sendiri. Begitu pula dengan individu-individu yang mengalami bipolar. Seperti Cevi yang setelah pergulatan panjang dengan bipolar, akhirnya mengambil kesimpulan bahwa bipolar bukan penyakit atau gangguan, hingga gak perlu disembuhkan atau dipulihkan.

Saya setuju dengan pernyataan Cevi yang ini “Kita pun harus belajar memahami peran masing-masing manusia dalam kehidupan, bukan membuat-buat pembenaran atau mencari-cari kesalahan siapa benar siapa salah, atau siapa yang lebih baik dari siapa. Setiap keputusan untuk menempuh jalan pengobatan masing-masing adalah keputusan masing-masing individu itu berdasarkan kepercayaan terbaik yang datang dan untuk diri mereka sendiri.”

Jalan penyembuhan atau pemulihan mana yang akan anda pilih? Atau anda merasa tak ada yang harus dipulihkan karena anda tak merasa tertanggu dengan label bipolar? Pilihan sepenuhnya ada di tangan anda.

Jika anda merasa berhasil dengan jalan yang anda tempuh, silakan berbagi dengan yang lain. Terserah meraka, apakah akan mengikuti jalan anda atau memilih jalannya sendiri.

Kita berbeda jalan tapi tak perlu saling menyalahkan apalagi saling menghujat.

Puncak gunung memang hanya satu, tapi jalan untuk mencapai puncak itu banyak, begitu kira-kira. :)


Rika :
Wow obrolan yang cukup 'panas' ya mas Tarjum.

Soal istilah Bipolar, saya sendiri malah merasa lega saat bertahun-tahun cari tahu apa yang salah dengan saya dan akhirnya saya dapat kata Bipolar tersebut. Tapi saya sendiri nggak lantas jadi terikat dengan semua definisi Bipolar karena Bipolar tidak 100% mendefinisikan saya.

Masalah obat, saya bukan konsumen obat psikiatri khusus Bipolar. Intinya, saya nggak minum apa-apa karena memang mungkin belum nemu obat dengan dosis yang cocok (terlalu ngantuk kalo minum obat). Selama ini relapse saya hanya saya tanggulangi dengan sosialisasi dan meditasi. Yah, tapi itu membuat saya bertahan hidup sampai 23 tahun ini.

Tapi ini semua bukan berarti saya menolak pemakaian obat. Itu semua hak masing-masing orang. Kalau memang banyak yang tertolong hidup & masalahnya karena obat ya mengapa tidak. Toh alasan saya tidak konsumsi obat juga selain karena belum ketemu yang cocok, juga karena harga obat mahal banget buat saya.

Mau nggak mau ya 'pasrah' tanpa obat. Walaupun saya akui saya lebih tenang tidak ketergantungan obat karena jika kita ketergantungan kepada sesuatu, pasti kita juga punya ketakutan yang sama besarnya dengan rasa ketergantungan tersebut. Kita akan ketakutan untuk kehilangan sesuatu tersebut.

Yah begitulah kira-kira menurut pandangan saya :)


Tarjum :
Awalnya dialog online itu memang panas, tapi saya berusaha membuatnya menjadi hangat :)

Setiap orang berhak memilih jalan pemulihan yang paling tepat untuk dirinya sendiri. Tak perlu dipermasalahkan antara yang menkomsumsi obat atau tidak. Mereka yang tak mengkonsumsi obat juga kadang bukan karena tak mau tapi bisa juga tak mampu beli karena harga yang mahal atau obatnya tidak cocok seperti kata Rika. Atau ada juga yang tak minum obat karena merasa belum perlu dan masih bisa mengelola suasana hatinya dengan caranya sendiri.

Jalan penyembuhan adalah pilihan masing-masing individu. Mungkin yang harus diperbaiki adalah cara menempuh jalan itu, agar lebih cepat, aman dan nyaman di perjalanan hingga sampai di tujuan.


Apakah anda sependapat dengan komentar di atas atau sebaliknya? Kami tunggu pendapat anda di komentar.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Komentar Kritis untuk Dialog Kritis tentang Bipolar

Ternyata banyak komentar kritis untuk artikel “Dialog Kritis tentang Solusi Penanganan Ganngguan Bipolar”

Artikel tersebut saya share di facebook, twitter, linkedIn dan Google+.

Komentar-komentar kritis tersebut ada yang langsung ditulis di blog, di grup facebook “Solusi Bipolar”, “Bipolar Indonesia”, “Publikasi Psikiatri Indonesia (PDSKJI)” page fb “Blog Curhatkita” dan pesan facebook.

Mereka yang ikut urun rembug dan memberi komentar juga beragam: ODB, caregiver, aktivis keswa, profesional keswa dan psikiatri.

Untuk apa saya mengangkat topik ini melalui blog dan sharing di situs jejaring sosial?

Bukan untuk memperdebatkan suatu masalah atau memperuncing beda pendapat tentang salah satu masalah kesehatan jiwa.

Tapi untuk menjernihkan masalah dan mencari titik temu. Tujuan utamanya, sesuai nama dan tema blog ini “Solusi Bipolar”, untuk mencari dan menemukan solusi terbaik penanganan gangguan bipolar.

Jadi walaupun berbeda pendapat kita tetap saling menghargai, karena tujuan kita adalah untuk mencari solusi.

Berikut komentar-komentar kritis untuk artikel “Dialog Kritis tentang Solusi Penanganan Ganngguan Bipolar”

Komentar dan dialog dengan profesional keswa dan psikiatri yang tergabung di grup facebook “Publikasi Psikiatri Indonesia (PDSKJI)”


R Surya Widya:
Obat-obatan memang hanya mengurangi gejala, tidak pernah menyembuhkan secara total, juga memberikan efek samping yang tidak enak.


Tarjum:
Makasih dok atas komentarnya. Jadi bagaimana menurut anda penanganan terbaik untuk gangguan bipolar? Karena pemahaman sebagian besar ODB tentang hal ini masih minim.


R Surya Widya:
Dalam keadaan akut, terapi psikofarmaka adalah suatu keharusan, setelah itu masih banyak model terapi yang lain bisa membantu pasien menjadi lebih baik.


Andri Andri:

Ada beberapa aliran Anti-Psychiatry yang memang berkembang di dunia ini, salah satunya juga menampilkan penelitian-penelitian dan pasien-pasien yang "gagal" diobati.

Saya memahami apa yang ditulis oleh Anonim, mungkin beliau melihatnya dari segi betapa industri farmasi telah berkembang luas, yang tidak beliau pikirkan apakah dengan memakan obat ada perubahan dalam kualitas hidup orang tersebut, mungkin tidak dikategorikan "sembuh" tetapi akan ada perbaikan dan membuat keluarganya lebih baik. Saya rasa itu suatu kesembuhan. Thanks pak Tarjum Sahmad sudah berbagi. Salam.


Tarjum:
Makasih informasinya dr Andri, ini menambah wawasan saya tentang dunia psikiatri dan kesehatan jiwa.


Satti Raja Sitanggang:
Perlu usaha,waktu, tenaga dan dana. Yang tidak kalah penting kerja sama untuk membuka wawasan masyarakat termasuk praktisi kesehatan tentang kesehatan jiwa.

Bagaimanapun obat tetap diperlukan sesuai indikasi,tepat dosis, tepat sasaran dan sebisanya terjangkau karena sesuai yang saya dapat di kuliah, faktor biologi sangat berperan dalam bipolar walau hal yang tidak kalah penting tentu saja dibarengi psikotherapi yang sesuai.

Jalan masih panjang, tergantung apa kita mau lanjut sampai akhir atau menyerah. Dan menurut saya kita harus lanjut.


Tarjum:

Makasih sharingnya Pak Satti.
Memang selama ini, terutama mereka yang belum terjangkau informasi yang memadai tentang keswa, belum memahami bahkan belum tahu bahwa gangguan jiwa seperti Skizofrenia dan bipolar bisa ditangani secara medis. Mereka yang tahu pun masih merasa khawatir tentang efek samping dan efek kecanduan dari obat. Ini mungkin yang masih perlu sosialisasi.


Khairi Sembiring:
Bagi kami, saya khususnya, yang diobati pakai psikofarmaka itu yang terganggu fungsinya, kemudian dengan psikofarmaka (dan terapi lainnya selain psikofarmaka) itu, fungsinya menjadi lebih baik, kehidupannya menjadi lebih berarti.

Mengenai efek samping obat, itu juga kita pikirkan, kita pilih mana yang terbaik dari kondisi pasien, dengan dibiarkan tanpa obat, atau diobati dengan resiko ada sedikit efek samping obat.

Kalau yang gak perlu obat, ya ngapain juga dikasih obat, apalagi kalo yang didapat hanya efek sampingnya, itu namanya iatrogenik. Makanya jadi dokter itu bisa memudahkan orang masuk sorga, tapi sebaliknya kalau gak hati-hati, bisa menyemplungkan ke neraka, karena kalo sering buat kesalahan di kumpul-kumpul itu jadi banyak, kan dokternya yang tanggung itu semua. Jadi kalo kita debat terus antara yang pro obat dan tidak....tanpa memahami kaedah-kaedah yang logis, yang berguna untuk kehidupan, yang ilmiah, bisa-bisa kontra produktif.

Tarjum :
Mbak Khairi Sembiring terima kasih atas komentar dan urun rembugnya.

Komentar-komentar kritis seperti yang saya posting di blog ini sebenarnya sering saya terima baik di blog, email, situs media sosial bahkan melalui sms. Biasanya saya tanggapi sesuai dengan apa yang saya tahu dan fahami, karena saya tak ingin memperdebatkan hal-hal seperti itu. Apalagi jika kritik-kritik itu bukan membangun tapi menyerang.

Sebagai tuan rumah (pemilik blog) saya harus menghormati para tamu blog saya, sekritis apa pun pendapat mereka.

Namun saya perhatikan, sang komentator kritis kali ini sepertinya orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang dunia psikiatri. Padahal pemahaman saya soal psikiatri sangat terbatas.

Karena itu, saya himpun komentar-komentar kritis tersebut menjadi satu posting blog agar bisa difahami lebih utuh dan jelas inti komentarnya. Dan saya meminta para ahli bidang keswa dan psikiatri untuk urun rembug dan mengemukakan pendapat.

Dari komentar-komentar para ahli itu, saya sendiri, rekan-rekan ODB, ODS dan ODMK bisa menilai pendapat dan pemahaman mana yang bisa diambil dan digunakan sebagai acuan terkait penanganan gangguan bipolar dan gangguan kejiwan secara umum.

Ibaratnya saya ini seorang jurnalis yang menyampaikan informasi bidang keswa dan psikiatri dari sumber-sumber terpercaya. Sebagai penyampai informasi saya harus tetap netral terhadap mereka yang berbeda pendapat. Karena saya percaya, publik juga sudah cukup pintar dan bijak untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.


Khairi Sembiring:

Masalahnya orang itu pak Tarjum, sering beraninya di kalangan yang tidak mengerti, atau kalau dia gabung dengan orang yang mengerti ilmunya, dia pakai kata 'pokoknya', atau mendahulukan 'paranoidnya', jadi sulit diajak diskusi.

Saya kalo sama orang kayak gitu, bilang gini (kalo dia sehat mental ya), gini aja, kalo anda udah gak sempat (atau 'gak mampu') ngambil kedokteran terus selanjutnya psikiatri, maka utuslah orang terpercaya anda untuk sekolah disana.

Misalnya adik atau anak kandung, kalo udah sama-sama kemampuan ilmunya, baru kita bisa diskusi (maaf ini bukan untuk menyombong ya....tapi memang begitu adanya). Kalo orang kepercayaan anda udah jadi psikiater, tanya sama dia, kalo itu gak anda percayai juga....wah mending introspeksi diri deh.

BTW, saya tidak menutup mata pada teman sejawat saya yang terlalu fokus kasih obat, lupa psikoterapi dan terapi-terapi lain kayak terapi sosial , terapi okupasi dll. Kami juga semangat untuk selalu meningkatkan regulasi itu, karena mungkin faktornya juga ada beberapa. Bila perlu di kritik, selama itu membangun, maka itu tugas kita bersama.


Andri Andri :
Saya ikut menyimak saja, bagaimana pendapat Prof Ling Tan tentang ini ? Kita nantikan ya


Tarjum:
Prof Ling Tan menulis komentar langsung di blog Solusibipolar.com. Berikut saya kutif komentar beliau :

Di USA ada beberapa "hate groups" yang anti psikiatri dan secara agresip menyerang psikiatri, dengan menguraikan bahwa konsep gangguan jiwa adalah mitos belaka yang hanya didasarkan semata-mata untuk keuntungan drug companies saja.

Ini bukan fenomena baru, antara lain http://www.blogger.com/img/blank.gifdikemukakan oleh Thomas Szasz, Church of Scientology, Bonkers Institute. Kita harus selalu waspada dengan membedakan antara mitos dan fakta:

http://heretohelp.bc.ca/sites/default/files/images/Bipolar_Myths_Facts.pdf

http://psychcentral.com/blog/archives/2009/06/12/9-myths-of-bipolar-disorder/

http://www.lisamcpherson.org/cchr.htm

Anjuran saya adalah agar kita bisa mengambil posisi yang seimbang (balanced) dan menghindari posisi yang ekstrim dari kedua belah pihak (anti-psikiatri / anti obat vs pihak yang terlalu pro obat).

Bipolar adalah gangguan jiwa yang tidak dapat lagi diingkari. Dan ODB sungguh bisa memanfaatkan pengobatan yang jitu. Saran bahwa terlalu banyak orang yng mendapat diagnosa Bipolar (over-diagnosed) dengan konsekwensi mendapat obat anti-bipolar tidak bisa diingkari pula. Sehingga adanya fenomena Bipolar palsu atau "pseudo-Bipolar" yang menjadi sasaran drug companies.

Untuk membuat konklusi secara terlalu meluas (over-generalization), bahwa semua ODB adalah palsu dengan akibat tidak diberikan pengobatan, adalah mengingkari obat bagi ODB yang betul-betul memerlukannya dan sangat bisa memanfaatkannya.

Bersambung…

Komentar-komentar lain yang tak kalah kritis, menarik dan unik, silakan baca lanjutan artikelnya di blog ini.

Anda punya pendapat yang berbeda tentang topik ini, silakan berbagi di komentar.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Dialog Kritis tentang Solusi Penanganan Ganngguan Bipolar

Dialog ini tak direncanakan, terjadi spontan di blog Solusibipolar.com, antara saya dan seorang pengunjung blog (Anonim).

Kami tidak saling mengenal sebelumnya dan sampai sekarang pun saya belum mengenal siapa dia sebenarnya.

Dialog ini tidak terjadi dalam satu waktu, tapi dalam kurun waktu tertentu. Sang Anonim menulis komentar untuk beberapa artikel blog Solusibipolar.com dan saya membalas komentar tersebut.

Komentar-komentarnya sangat kritis. Kami saling mengemukakan pendapat masing-masing. Kadang kami berbeda pendapat, namun tetap saling menghargai.

Dari komentar-komentarnya yang mendalam dan kritis kadang kontroversial, sepertinya dia memiliki pengetahuan dan pemahaman luas tentang kesehatan jiwa dan psikiatri.

Berikut dialong saya dengan sang Anonim. Saya sertakan pula judul dan link artikel yang kami berdua komentari.


Artikel : Selamat Datang di Blog Solusi Bipolar

Anonim :


Saya sangat tertarik dengan semangat Pak Tarjum. Tetapi dengan mengikuti jejak aliran psikiatri biologi dunia yang mendefinisikan prilaku manusia menjadi sebuah istilah gangguan medik-biologi yang diantaranya BIPOLAR, maka anda secara otomatis berkampanye mendukungnya. Padahal itu tak lebih hanya sebuah aliran seperti partai politik, yang tak ada dasar ilmiyah yang diakui secara sains seperti bidang medis lainnya.

Perkembangan terakhir aliran ini yang di kitabi dengan buku DSM IV dan DSM V, tak lebih sebagai legitimasi kepentingan komersial profesi dan bisnis obat yang experimental era kapitalistis.

Anda akan sangat tercengang ternyata bisnis obat psikiatri menduduki rangking tertinggi dari semua bisnis obat dunia. Setelah ditilik oleh FDA dan para praktisi lapangan ternyata begitu banyak terjadi OVERUSE obat-obat ini termasuk golongan antipsikotik yang pernah anda memakainnya.

Anda bisa belajar pengalaman Inggris, di sana begitu ketat tidak seperti di negara kita.

Selamat, lain kali akan saya sambung, semoga kita bisa belajar dari pengalaman pahit negeri lain.


Tarjum :

Komentar tercepat di blog Solusi Bipolar! Hanya 17 menit setelah dipublikasikan :)

Komentar yang spontan namun mendalam. Terima kasih atas kritik (membangun) dan masukannya. Saya ingin berdiskusi lebih mendalam tentang bipolar dengan anda. Saya harap anda bisa menghubungi saya via email atau kontak saya yang lain.

Anonim, terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)

Anonim :

Salah satu solusi yang kami tak pernah menganjurkan:
http://www.bonkersinstitute.org/simplebipolar.html


Tarjum :

Anonim, Solusi tak dianjurkan yang anda maksud yang di bonkersinstitute.com? Mohon dijelaskan mengapa? Dan solusi yang anda anjurkan seperti apa?

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya di blog ini..:)

Anonim tak membalas komentar ini lebih lanjut.


Artikel : Apa yang Bisa ODB Pelajari dari Pendekar Kungfu Shaolin?

Anonim :

Suatu pilihan therapy yang bisa dipercaya baik bagi yang sudah ODB serta pencegahannya, pilihan yang baik ditengah kontroversi pengetahuan tentang psiko-otak (psikiatri) yang sampai saat ini sangat-sangat sedikit.

Tarjum :

Saya hanya mencoba memberi alternatif solusi (non medis) penanganan gangguan bipolar dari beberapa alternatif terapi yang ada. Apa yang saya sampaikan berdasarkan pengalaman dan pemahaman saya tentang bipolar.

Alternatif solusi yang saya sampaikan belum tentu cocok untuk semua orang, tapi paling tidak bisa menjadi pilihan untuk dicoba. Mudah-mudahan bisa membantu.. :)


Artikel : Untuk Apa Saya Berbagi Pengalaman dan Pemahaman Bipolar

Anonim :

Saya kira janganlah membesarkan pengistilahan BIPOLAR, anda tidak akan mengerti batas-batas istilah diagnosis ini dengan jelas. Semua akan dibuat kabur, pengistilahan ini tak lebih hanya sebuah ideologi barat (Amerika dalam buku manual psikiatrinya) yang tak lebih hanya sarana bisnis jahat tak bertanggung jawab dari para pelaku profesi dan pabrik obat.

Anda akan tercengang ketika melihat betapa mereka tak mau mendiagnosa sakit perubahan otak akibat obat (iatrogenesis), semua para profesi itu hanya selalu menyalahkan dan menyalahkan si penderita, yang pada akhirnya tetap akan terus dan terus meminum obat resepnya, padahal obat itu dalam selubung BERBAHAYA.

Seorang profesor psikiatri senior Indonesia yang telah meninggal beberapa bulan lalu, pernah bilang dalam tulisannya: "Selama ini coba hitung berapa prosentase pasien yang berhasil disembuhkan dan berapa yang gagal?, Kita janganlah ikut-ikutan dengan proyek orang lain, yang dibutuhkan sekarang adalah mencari cara dan obat yang bisa menyembuhkan pasien. Kenyataanya hingga sekarang orang yang demensia ya tetep demensia, yang psikotik ya tetep psikotik, yang depresi ya tetep depresi, ini tanggung jawab kita..." kurang lebih begitu isinya.


Tarjum :

Terima kasih atas apresiasi kritisnya untuk artikel ini. Saya tak bermaksud membesarkan pengistilahan bipolar. Tapi inilah salah satu istilah yang sekarang digunakan untuk mendefinisikan gangguan mood, sehingga kita bisa saling memahami dan mengidentfikasi satu sama lain.

Jika menurut anda istilah "Bipolar" ini hanya digunakan untuk kepentingan kelompok tertentu, istilah apa yang sebaiknya digunakan?

Jika obat/pengobatan yang selama ini digunakan hanya menguntungkan produsen obat, obat dan metode pengobatan seperti apa yang paling tepat untuk mengatasi gangguan mood tersebut?

Anonim :

Pak Tarjum, tentu sudah melewati pengalaman menyandang kejiwaan yang sementara diistilahkan bipolar, apakah sampeyan merasakan hal yang baik selama sampeyan dalam proses penyembuhan yang menurut sampeyan tanpa obat? Coba terangkan pada publik.

Dan apakah sampeyan juga mengalami penyembuhan dengan bantuan obat resep dari psikiater? Setahu saya sampeyan belum pernah khan? Cobalah tanyakan ‘n klo perlu isi artikel ini dengan orang-orang yang mengalami pengobatan dengan psikotropika resep.


Tarjum :

Sobat Anonim, Soal pengalaman terapi alamiah penanganan bipolar, sebenarnya sudah saya tulis di beberapa artikel di blog curhatkita, ini salah satu artikelnya: Terapi Alamiah Penanggulangan Manic Depresif.

Sudah dibahas juga di buku psikomemoar saya "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah".

Dibahas lebih mendalam di ebook "Berdamai dengan Bipolar" (Sudah rilis 2 Januari 2012).

Saya senang sekali jika anda berkenan membaca artikel-artikel tentang bipolar di blog ini, blog Curhatkita, buku psikomemoar bipolar dan di ebook saya.

Dari tulisan-tulisan saya itu mungkin anda bisa menemukan 'benang merah' pemahaman dan pemikiran saya tentang penanganan bipolar dan gangguan kejiwaan secara umum.

Saya tunggu apresiasi anda selanjutnya :)


Artikel : Stigma Negatif Penderita Gangguan Jiwa

Tarjum :

Stigma negatif gangguan jiwa masih melekat kuat di masyarakat kita sampai saat ini. Perlu usaha keras dan kerjasama semua pihak untuk mengikis stigma negatif ini.

Anonim :

Apakah ODS dan ODB bukan stigma??, lambat laun tetep sama saja artinya dengan gila, tak waras, miring dsb… ODS ODB ds… itu bikinan siapa? Dan untuk apa? Dan bagaimana cara solusinya? Tentu harus nurut dengan yang membuat istilah stigmatis tersebut.

Anonim :

Kita tak sadar bahwa 'OTAK' adalah ladang bisnis yang sangat menggiurkan bagi siapa saja yang mencoba mengulasnya meski seringkali berbau celaka-berbahaya dan menyesatkan. Kenapa?

Karena hingga saat ini semua pengetahuan manusia tentang OTAK masih mendekati angka NOL besar..., terutama psikiatri dan psikofarmaka.. Pengetahuan yang masih mendekati NOL itu apakah bisa dipertanggungjawabkan?? Emmm sama sekali tidak...


Tarjum :

Makasih atas komentar kritis dan masukannya. Saya hargai pendapat anda. Sepertinya anda seorang aktivitis atau profesional kesehatan jiwa. Jadi apa menurut anda solusi terbaik untuk penanganan gangguan jiwa, khususnya bipolar? Bagaimana pula sebaiknya kita menyebut atau mendefinisikan ODB, ODS, ODMK agar tidak menstigma?

Anonim :

Pak Tarjum, soal solusi janganlah dipaksakan ditengah minimnya pengetahuan tentang OTAK/kejiwaan manusia. Karena kita mesti sadar bahwa pengetahuan yang masih dalam taraf awal/prematur sangatlah tidak etis diterapkan dalam praktik medis secara luas utamanya psikofarmaka.

Otak adalah organ yang sangat fantastis, 1 milyar sel neuron dengan 100 milyar sambungan dendrites. Membayangkannya ibarat seluruh pohon dan akarnya di seluruh hutan amazon. Ia organ yang mempunyai kemampuan adaptasi yang menakjubkan.

Sadarkah kita bila lingkungan dingin kita kedinginan. Siapakah organ yang bertanggungjawab untuk mengatasinya?? Jawabnya Otak. Itu contoh kecil. Lalu bicara kemampuan dan kecerdasan manusia yang semakin hebat dari manakah didapat?? Dari lingkungan, yakni dengan cara belajar dan latihan…bukan dengan “obat cerdas” ya khan pak?? Wal hasil manusia berubah menjadi lebih baik sudah menjadi sunnatullah harus melewati proses panjang melalui interaksi dengan LINGKUNGANnya.

Semoga ini menjadi pencerahan kita semua dan menjauhkan kesombongan kita dimata kekuasaan Tuhan.


Itulah dialog kritis saya dengan sang Anonim.

Bagaimana pendapat anda tentang materi dialog di atas. Saya mengundang anda sekalian untuk ikut urun rembug mencari solusi terbaik penanganan bipolar dan gangguan kejiwaan pada umumnya. Silakan sampaikan pendapat anda di komentar.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Minuman Sari Kulit Buah Manggis Anti Oksidan untuk Gangguan Bipolar

Oleh Ema Amalia

Secara fisik, gangguan bipolar (bipolar disorder) adalah akibat kelainan mekanisme pelepasan hormon serotonin dan dopamine yang tidak normal di otak.

Oleh karena berkaitan dengan hormon-hormon yang berkaitan dengan mood, gejala yang muncul adalah seperti namanya–-dua kutub-–yaitu dua kutub mood. Satu kutub mood adalah mania dan yang lainnya adalah depresi.

Pada saat mood mania, gejalanya adalah penuh energi, ide, dan tidak merasa lelah. Kelemahannya, rencana dan program yang dibuat saat mania biasanya tidak realistis terutama dari segi waktu target pencapaian. Pada saat mood depresi, gejala yang timbul adalah perasaan tanpa harapan, malas, berat untuk beraktivitas seperti biasa, dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasanya disukai.

Kelemahan pada saat depresi adalah sulit tercapainya target-target dari aktivitas yang biasanya tidak sulit dicapai. Penyandang bipolar disorder ada kalanya mengalami masa normal tanpa gangguan kedua kutub mood tersebut. Pada saat normal inilah, biasanya penyandang bipolar disorder “terlihat sama dengan yang dulu”, maksudnya sama dengan waktu sebelum terkena penyakit ini. Umumnya penyakit ini muncul pada usia dewasa muda (25 – 40 tahun).

Maaf kalau saya agak panjang menjelaskan tentang penyakit bipolar disorder, karena penyakit ini bukanlah penyakit yang familiar di masyarakat umum, walaupun sudah ada film maupun komunitas di Indonesia yang kebanyakan digalang lewat facebook dan internet.

Untuk saya sendiri, saya sudah memasuki tahun ke-11 sejak penyakit ini muncul di usia saya yang ke 26 tahun. Saya bisa hidup relatif normal, dalam arti dapat beraktivitas rutin di rumah maupun di kantor, dengan mengkonsumsi obat.

Obat yang saya konsumsi tidak dapat menangani kalau saya depresi, karena memang untuk penyandang bipolar disorder sangat tidak dianjurkan untuk minum obat anti-depresi.

Berikutnya saya ingin menguraikan pengalaman saya mengkonsumsi minuman anti oksidan sari kulit buah manggis dan pengaruhnya terhadap gejala penyakit bipolar disorder.

Saya minum sari kulit buah manggis pertama-tama seminggu selama satu gelas (±250 cc) pada siang hari. Pada tiga hari pertama, ada gejala sering ingin buang air kecil, tetapi hari keempat gejala ini hilang.

Pada seminggu pertama ini, secara umum dapat dikatakan bahwa sari kulit buah manggis mempengaruhi mood ke arah aktivasi. Artinya karena pada saat itu ada dalam kondisi cenderung depresi, sangat terbantu untuk tidak jatuh ke keadaan tidak bisa beraktivitas.

Pada periode pemakaian pertama ini saya sangat terbantu untuk bisa berkonsentrasi dengan baik pada pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan pemikiran dan pemahaman.

Setelah mengkonsumsi, saya libur sekitar empat hari, dan dilanjutkan dengan 14 hari berikutnya. Yang 14 hari ini saya mengkonsumsinya malam hari sebelum tidur serta siangnya dalam kondisi puasa (puasa qadha).

Periode mengkonsumsi kali ini tidak diawali dengan gejala sering ingin buang air kecil. Pada seminggu pertama, oleh karena saya dalam kondisi mood relatif normal, saya tidak berani mengkonsumsi 2 x 1 gelas (±250 cc) seperti yang disarankan. Ini karena khawatir jadi eskalasi ke mania. Dengan mengkonsumsi 1 x 1 gelas, kondisi mood bisa bertahan pada posisi normal dan ada energi yang bagus untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Lalu, pada seminggu kedua, saya berjuang keras mengatasi kondisi mood yang nyaris jatuh ke keadaan depresi. Jika diambil dari sudut pandang keseimbangan hormon, seminggu kedua ini memang adalah menjelang waktu menstruasi saya.

Saya merasakan, dengan mengkonsumsi sari kulit buah manggis ini saya tidak terjatuh ke keadaan depresi dan tetap bisa beraktivitas rutin walaupun dengan memaksakan diri.

Kesimpulan saya, saya berencana mengkonsumsi minuman antioksidan sari buah manggis ini secara rutin sebanyak 1x1 gelas (±250 cc) karena saya merasakan sekali manfaatnya untuk menangani gejala mood yang biasanya membawa ke kondisi depresi yang sulit ditangani obat.

Lalu, pada kondisi normal, minuman antioksidan ini memberi tambahan energi untuk mencurahkan konsentrasi pada pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan pemikiran. Sedangkan pada kondisi mood cenderung mania, saya akan berhenti mengkonsumsinya sehari dua hari agar tidak terjadi penambahan energi yang berlebihan, dan melanjutkannya lagi.

Informasi lebih lengkap tentang minuman anti oksidan sari kulit buah manggis, silakan kontak penulis artikel ini, Ema Amalia melalui emailnya : ema.amalia@gmail.com


Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook.

    




Curahan Hati dan Harapan Seorang Gadis Bipolar (Bagian 2 - Selesai)

“Saya kadang pesimis dengan masa depan saya, tapi saya mencoba untuk tidak hanyut dengan bayang-bayang suram itu.”


Tulisan ini merupakan lanjutan dari cerita sebelumnya tentang perjuangan seorang gadis yang mengalami gangguan bipolar.

Dia berusaha mencari jalan keluar dari masalah-masalah berat yang dihadapinya untuk mewujudkan harapan dan impiannya.

Bagaimana lanjutan cerita sang gadis bipolar ini? Silakan baca ceritanya sampai selesai.

Melanjutkan Kuliah

Saya hanya diam di rumah tidak memiliki kegiatan apapun yang berbanding terbalik dengan hidup saya sebelum dirawat. Di tahun ajaran baru saya bicara pada orang tua saya, bahwa saya ingin melanjutkan kuliah, dan akhirya disetujui lalu diurus administrasinya karena saat saya dirawat 2 bulan saya di ajukan untuk cuti.

Tapi setelah masuk kuliah hanya 4 hari saya malah merasa jadi minder di kampus, selain saya yang saat itu masih pengaruh obat jadi lemes, ngantuk, saya juga jadi malu luar biasa pada teman-teman sekelas saya, saya juga merasa otak saya jadi tumpul, diskusi yang biasanya saya aktif bertanya jadi sulit mengikuti pokoknya jadi minder, bahkan pergi kuliah juga diantar ibu, sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti kuliah dan ingin bekerja saja.

Memasuki Dunia Kerja

Orang tua saya yang saat itu tau kondisi saya pun tidak bisa memaksa saya, dan hanya menuruti keinginan saya dan 2 bulan entah 1 bulan kemudian saya ditawari pekerjaan di Subang oleh orang tua di sebuah akademik yang baru berdiri di bagian administrasi, saat itu saya pun setuju saja karena rasanya saya tidak ingin ada di Bandung lagi saya ingin jauh dari masa lalu saya yang bagi saya sudah membuat kenangan buruk karena peristiwa saya sebelum dirawat itu.

Saya pun bekerja dan tinggal di Subang tapi lagi-lagi hanya 2 bulan saya bertahan dengan alasan udara yang sangat panas. Saya yang pada waktu itu tetap di temani ibu saya pulang kembali ke Bandung.

Pemilik Yayasan yang mempekerjakan saya yang sebenarnya masih teman ayah saya ternyata masih berbaik hati dan masih menyuruh saya kembali bekerja di cabang Bandung kalau tidak salah saat itu bulan Februari 2008.

Melihat kondisi saya saat itu, ayah dan ibu saya yang tidak terlalu paham dengan penyakit kejiwaan mencoba menghentikan obat yang saya minum saat itu, malah saat saya kerja di subang pun sudah diberhentikan dengan alasan kondisi saya sudah membaik dan agar saya bisa konsentrasi dan tidak mudah ngantuk.

Di tempat kerja saya di Bandung, akhirnya saya bisa menjalani hari-hari saya lebih baik tanpa obat. Walaupun pada saat itu saya malah jadi agak parno dengan teman-teman di organisasi saya yang tiba-tiba datang pada saya mengajak bergabung kembali dengan mereka. Sehingga di jalan atau di dalam Bus saya selalu takut kalau satu Bus sama salah satu teman saya dan berusaha untuk tidak melihat dia sehingga tidak disapa.

Kurang lebih 8 bulan setelah saya bekerja di akademik keperawatan sebagai bagian administrasi, saya ditawari oleh para dosen untuk kuliah saja lagi di akademik itu karena usia saya yang memang masih sangat muda dan masih pantas kuliah. Juga agar ada peningkatan pada pekerjaan saya selanjutnya, seperti supaya bisa di angkat dosen dan sebagainya.

Dengan banyak pertimbangan sayapun mengikuti saran mereka dan bilang ke ortu untuk kuliah di sana dan ortupun sangat mendukung apalagi biaya ditanggung oleh ketua yayasan di sana. Tapi dengan stressor yang lebih banyak, karena saya harus asrama.

Setelah dua bulan saya kuliah rasanya saya kambuh lagi. Memang tidak histeris seperti yang pertama hanya agak hiperaktif lagi, yang pada akhirnya saya sendiri yang minta sama ayah untuk kembali dirawat di tempat Rehabilitasi di subang.

Gagal Kuliah

Sayapun gagal lagi kuliah dan dirawat selama 1 bulan lalu kembali pulang ke rumah. Setelah dirawat yang kedua ini, saya masih belum berani memiliki aktivitas sekolah ataupun kerja. Saya merasa enjoy di rumah dan jadi kurang bergaul.

Hampir 2 tahun saya menganggur, tapi kali ini saya tidak melepaskan obat saya, saya malah sadar sendiri minum obat tiap hari, dan obat sayapun sudah banyak dikurangi hingga sekarang saya hanya meminum sehari 2 x ½ carbamazepein 200 mg dan 1 x ½ haloperidol 1,5 mg.

Saya hanya control 2 bulan sekali ke psikiater di kota saya jika obat sudah habis. Lalu di tahun 2010 akhir saya mencoba lagi bekerja kali ini di sebuah Garment, karena saya merasa ijazah SMA saya hanya bisa diterima di Pabrik. Sayapun masih tidak bisa bekerja di bawah tekanan dan hanya bertahan 4 bulan. Sebelum masa kontrak habis saya mengundurkan diri.

Menuju Pemulihan Kondisi Mental

Setelah keluar, ayah saya menawari saya kuliah lagi, kali ini kuliah kelas karyawan yang hanya masuk satu minggu sekali. Alasannya agar tidak terlalu berat dan saya punya kegiatan. Saya pun menyetujui dan Alhamdulillah sampai saat ini saya masih menjalankan kuliah sudah semester III semoga bisa sampai lulus.

Tapi 6 hari yang saya miliki dirumah mulai terasa jenuh, saya ingin mencari pekerjaan lagi setelah 1 tahun menganggur. Dan mudah-mudahan awal tahun 2012 saya bisa mengajar di sebuah TK. Saya tidak memandang penghasilan yang saya dapat, saya hanya ingin mencoba pengalaman baru, bersosialisasi lagi sambil berlatih menjadi guru sebelum saya lulus S1 di keguruan. Mudah-mudahan saya benar-benar menjadi guru di TK itu untuk pengembangan diri saya juga.

Mungkin seperti itulah pengalaman yang saya dapat dari awal saya menderita Bipolar hingga sekarang setelah 4 tahun saya masih minum obat dan sudah dinilai cukup baik sama dokter dan sayapun merasa lebih baik.

Mungkin yang saya rasakan hanya gejala-gejala badmood, atau emosi yang sejauh ini masih bisa saya kendalikan sendiri sambil terus berikhtiar teratur minum obat.

Walaupun saya merasa kehilangan masa-masa kuliah saya sejak usia 19 tahum hingga sekarang saya 23 tahun. Seharusnya saya sudah lulus kuliah dan memiliki pekerjaan yang layak, atau bahkan mungkin seperti teman-teman saya yang sudah menikah. Tapi saya masih seperti ini, masih meniti langkah untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Saya masih beryukur karena dukungan keluarga yang sangat besar sama saya agar saya bisa terus bangkit.

Harapan dan Harapan

Kadang saya berpikir mungkinkah suatu hari saya mendapatkan pekerjaan yang baik dengan penghasilan mencukupi untuk kehidupan saya sendiri sehingga saya bisa mandiri dan tidak terus menjadi beban orang tua.

Mungkinkah suatu hari saya mendapat jodoh yang sholeh yang bisa mengerti saya dan bisa menjadi imam bagi saya. Saya orang yang tidak mudah bergaul apalagi dengan lawan jenis karena prinsip saya juga saat di organisasi keislaman bahwa ada batas antara pergaulan lelaki dan perempuan.

Saya kadang pesimis dengan masa depan saya, tapi saya mencoba untuk tidak hanyut dengan bayang-bayang suram itu.


Curhat saya, ini sebelumnya tidak pernah saya ceritakan pada siapapun karena sifat saya yang tertutup. Tulisan ini adalah salah satu isi hati yang sudah lama ingin saya curahkan pada seseorang tapi sangat sulit dikatakan sekalipun pada orang tua. Dan melalui tulisan ini saya ingin berbagi pada siapa saja.

Assalamualaikum wr. wb.

Inspirasi apa yang anda petik dari cerita ini? Silakan sampaikan di komentar.

Jika menurut anda artikel ini menarik dan bermanfaat silakan share di twitter, facebook dan Google+.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Curahan Hati dan Harapan Seorang Gadis Bipolar

“Saya dibawa ke RSJ dan dirawat sekitar 8 hari tanpa dijenguk keluarga. Bahkan saya sempat diikat dan diisolasi karena sikap saya yang mungkin saat itu berlebihan.”


Pagi itu, ketika membuka inbox email, ada kiriman email dari seorang gadis yang saya kenal namanya, Rani (nama samaran).

Ya, beberapa waktu yang lalu dia pernah curhat via email.

“Sebelumnya saya pernah curhat pada Mas Tarjum,” tulis Rani, mengawali email curhatnya. “Kali ini saya ingin menceritakan sebuah pengalaman bipolar saya.”

“Tulisan ini adalah salah satu isi hati yang sudah lama ingin saya curahkan pada seseorang tapi sangat sulit dikatakan sekalipun pada orang tua. Dan melalui tulisan ini saya ingin berbagi pada siapa saja,” tulis Rani mengakhiri emailnya.

Silakan simak curhat Rani selengkapnya.

Assalamualaikum wr. wb.

Saya mencoba untuk berbagi dan mengeluarkan isi hati saya yang selama ini saya pendam sendiri.

Saya baru mengetahui tentang bipolar pada tahun 2007 saat saya mengalami sendiri dan didiagnosis oleh dokter bahwa saya bipolar. Saat itu saya masih kuliah semester II di sebuah Universitas Negeri di Bandung.

Semangat Tinggi dan Hiperaktif

Yang saya ingat pada saat itu saya merasa sangat bersemangat dalam melakukan segala hal tidak hanya kuliah, tapi juga mengikuti beberapa organisasi di kampus.

Sejak SMA saya mengikuti organisasi Rohis sekolah atau kegiatan keagamaan dan mulai ikut sebuah kelompok atau mungkin organisasi keislaman yang saya dapatkan di luar sekolah dan aktif hingga saya kuliah.

Seperti organisasi lainnya kita yang sudah menjadi anggota diharuskan merekrut teman-teman lain supaya ikut bergabung di organisasi itu, saat itu dengan semangat saya yang sangat tinggi saya ingin sekali mengajak teman-teman sekelas saya untuk ikut organisasi itu, hingga saat itu saya membuat acara piknik sambil mengenalkan organisasi itu pada teman-teman di tempat kuliah saya dan dikenalkan lagi pada senior di organisasi saya.

Pokonya pada saat itu saya merencanakan acara piknik kelas itu sendiri mengatur tempat, transportasi, acara dan dana oleh saya sendiri yang kalau dipikir lagi sekarang, saya tidak mungkin bisa melakukannya jika pada saat itu mungkin saya tidak ada dalam fase manic yang sangat hiperaktif, dan baru sadar sekarang bahwa saat itu saya sudah mulai memiliki gejala bipolar.

Sampai akhirnya acara itu selesai saya masih mencari kesibukan di himpunan mahasiswa, mulai kembali ikut panitia sebuah acara yang pada akhirnya saya hanya sibuk pada kegiatan-kegiatan kampus seperti itu tanpa focus kuliah.

Dihantui Pikiran-Pikiran Aneh

Dan suatu hari saya mendapatkan bentol-bentol di tangan yang sangat banyak entah alergi dari obat, atau kena ulat tapi saat itu saya malah merasa kalau saya sedang di guna-guna dan mulai curiga pada teman-teman sekelas yang kebanyakan memang dari daerah yang pada saat itu saya pikir ada teman sekelas yang iri pada saya dan menjahili saya.

Karena saat itu saya merasa sangat percaya diri, dikelas selalu bertanya saat diskusi bahkan berdebat, dan merasa mudah dalam mengerjakan tugas, sampai-sampai saya menerima jasa pengetikan bahkan membuat makalah teman-teman saya, dari situlah saya merasa saya lebih unggul dari teman-teman saya dan merasa ada teman yang iri dengan saya sehingga saat itu saya mulai dihantui oleh pikiran-pikiran yang mengarah ke magic.

Sampai pada suatu malam saya menginap di rumah guru di organisasi saya dan malam itu saya tidak bisa tidur dan malah cerita kalau saya bisa melihat masa depan anak-anak guru saya, menceritakan bahwa anak-anak itu akan menjadi pemimpin islam dan sebagainya. Sampai akhirnya siang harinya saya disuruh pulang itupun dengan dibujuk pergi ke suatu mall karena sebelumnya saya bilang ingin jalan-jalan.

Rasa Curiga, Takut dan Histeris

Dan setelah di Mall itu saya kembali merasakan keanehan saya merasa takut pada orang-orang berseragam STPDN selama di bispun saya menatap curiga para penumpang yang pada saat itu saya merasa mata mereka merah dan punya niat jahat pada saya pokonya saat itu saya antara sadar dan tidak sadar dan peristiwa itu saya alami di luar rumah karena pada saat itu saya tidak pulang ke rumah sehingga orang tua saya belum tau apa yang terjadi pada saya.

Esoknya setelah saya pulang ke rumah, saya juga tidak terlalu ingat bagaimana proses saya bisa sampai ke rumah. Yang saya ingat setelah di rumah saya dapat telepon dari teman saya yang pada saat itu sama-sama nginep dirumah guru saya bilang kalau saya jangan dulu keluar rumah sampai akhirnya dimalam harinya saya tiba-tiba merasa ketakutan untuk ke dapur dan teriak-teriak di rumah menyuruh adik saya mengaji. Membicarakan bahwa ayah saya seperti abu bakar, ibu saya seperti umar bin khatab, dan lain-lain sampai malam itu saya tidak tidur.

Keluarga saya menenangkan saya yang ketakutan. Dan saat ayah saya mau ke mesjid shalat subuh saya merasa takut akan terjadi apa-apa sama ayah saya. Akhirnya ibu saya menyuruh kami sekeluarga ikut dengan ayah shalat di mesjid.

Dimesjid saya justru tidak konsentrasi shalat saya malah melihat ke jamaah laki-laki dan melihat cara mereka takbiratulihram dan jika ada yang beda saya mulai curiga lagi dengan orang-orang dimasjid.

Dikira Ikut Aliran Sesat

Setelah selesai ada tetangga saya yang sudah berjamaah datang dan menanyakan apa yang terjadi pada saya, karena mungkin mulai melihat keanehan didiri saya. Saat itu tanpa sadar saya hanya bertanya pada tetangga saya itu “isyhadu bi ana muslim?”, “Isykariman aumut syahidan?” lalu membaca surat Al-Baqarah yang artinya “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam islam secara keseluruhannya. Dan janganlah kamu turut langkah-langkah syeitan. Sesungguhnya syeitan itu musuh yang nyata bagimu”

Saya ulang-ulang pertanyaan dan surat Al-Baqarah itu pada setiap bapa-bapa yang ada di masjid itu hingga saya sulit pulang lagi ke rumah. Bahkan sampai dibawa ke dokter yang praktek di rumah saya untuk di suntik bius atau penenang tapi sulit karena tenaga saya yang sangat kuat saat itu.

Setelah sampai dirumah, banyak tetangga yang datang kerumah saya ada yang menyangka saya kerasukan jin, diguna-guna, sampai mendatangkan orang pintar. Pokoknya macem-macem dan melihat saya yang banyak mengeluarkan ayat-ayat Al-quran saat mencoba berbicara dengan orang-orang disekitar saya, ada tetangga saya yang menganggap bahwa saya ikut aliran sesat sampai mendatangkan guru saya dari organisasi itu.

Dirawat di RSJ dan Panti Rehabilitasi Mental

Saat guru saya datang saya memang jadi lebih tenang dan mau makan juga tidur setelah semalaman saya tidak bisa tidur dan teriak-teriak histeris. Lalu setelah orang tua saya bermusyawarah dengan tetangga saya dan mereka menyarankan saya dibawa ke RS. Jiwa.

Akhirnya dengan trik mereka saya bisa dibawa ke RSJ. Dan dirawat disana sekitar 8 hari tanpa dijenguk keluarga. Bahkan saya sempat diikat dan diisolasi karena sikap saya yang mungkin saat itu berlebihan.

Saya juga merasa antara sadar dan tidak sadar. Setelah 8 hari saya dipindahkan ke tempat Rehabilitasi mental di Cisalak, Subang dan dirawat sekitar 2 bulan kurang dan selalu dijenguk orang tua 2 minggu sekali.

Setelah keluar dari tempat rehabilitasi mental, kondisi saya memang sudah lebih baik dan tenang. Mungkin karena pengaruh obat penenang seperti CPZ diantaranya dan masih banyak lagi obat yang harus saya minum saat itu, sekitar 7 jenis.

Saya masih harus terus kontrol ke dokter di Subang satu bulan sekali. Tapi setelah pulang ke Rumah, saat itu saya mulai merasa berbeda dari kehidupan saya sebelumnya. Saya tidak bisa kuliah karena sudah ketinggalan ujian semester. Saya juga tidak diperbolehkan menghubungi teman-teman di organisasi saya, padahal merekalah teman-teman terdekat saya dari SMA. Mungkin karena organisasi itu di tuduh aliran sesat dan membuat saya stress karena pelajarannya terlalu berat.

Bersambung...


Bagaimana lanjutan cerita sang gadis bipolar ini? Bagaimana dengan studinya? Apa yang terjadi ketika dia memasuki dunia kerja? Berhasilkan dia mengatasi rintangan dan hambatan dalam kehidupannya?

Silakan simak lanjutan ceritanya besok hanya di blog SolusiBipolar.com :) .

Jika menurut anda artikel ini menarik dan bermanfaat silakan share di twitter, facebook dan Google+.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Ebook "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Jika orang yang anda cintai mengalami Gangguan Bipolar, Apa yang sebaiknya anda lakukan?

Ebook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar.



Buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"
Psikomemoar Seorang Bipolar

Buku ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan problem psikis yang tidak saya fahami. Yang membuat saya terus bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya justru baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya bisa melepaskan diri dari belenggunya.

Buku ini bukan hanya bercerita tentang pengalaman psikologis, tapi tentang perjuangan seorang anak petani untuk mewujudkan impiannya, Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah.

Sinopsisnya silakan baca di sini.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code