Tampilkan postingan dengan label bipolar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bipolar. Tampilkan semua postingan

Kekhawatiran Seorang Ibu yang Puteranya Mengalami Bipolar

                                        Ilustrasi: www.health.liputan6.com/sockmd.com

Di grup facebook Solusi Bipolar, saya membaca status kekhatiran seorang ibu yang puteranya didiangnosa mengidap gangguan bipolar. Berikut kutifan curhat ibu Lilis Setiawati, di dinding grup:

Sepulang rawat inap diagnosa terakhir anak saya yang ditulis dokter di surat kontrol paska perawatan yaitu Skizofrenia Hebefrenik / Skizoafektif tipe Manik. Di kasih obat cuma Hallo dan Thp untuk satu minggu. Sampai di rumah terjadi prilaku aneh, baju hampir habis di bagi-bagi, salaman terus dan sedekah terus.

Kontrol berikutnya saya minta mood stabilizer, alhamdulilah prilaku aneh berkurang tapi waham makin banyak. Kontrol berikutnya di kasih rizodal, alhamdulilah kondisinya sekarang membaik, gak bagi-bagi baju lagi tapi bagi-bagi permen ke anak-anak. Besok mau kontrol lagi.

Seorang member grup, Abahriza Mohamad, memberi nasihat yang menguatkan, “Kuncinya sabar Bu, berusaha terus kontak dengan psikiater dan terakhir berdo’a. Saya juga pernah mengalaminya.”

Saya juga ikut memberi masukan untuk ibu Lilis, sebuah saran spontan yang saya tulis di kolom komentar. Saran yang saya tulis di bawah ini adalah kutifan dari komentar di grup, tapi sudah saya lengkapi dengan tambahan beberapa hal, terkait upaya membantu proses pemulihan penderita gangguan bipolar.

Jika dia suka olahraga, lebih bagus olahraga permainan, coba diarahkan agar dia punya lebih banyak waktu untuk menekuni hobi olahraganya tapi tetap dimonitor. Pengalaman saya, olahraga cukup efektif menyalurkan gejolak emosi dan energi yang meluap ke dalam aktivitas fisik.

Mengapa memilih aktifitas fisik sebagai media menyalurkan semangat yang meluap dan membubung tinggi? Karena dalam aktivitas fisik seperti olahraga (lebih bagus olahraga permainan yang meliabatkan team), bukan sekedar melakukan olah fisik, tapi juga olah mental dan interaksi sosial.

Buat ibu Lilis, butuh kegigihan dan kesabaran ekstra mendampingi dan membantu pemulihan penderita gangguan jiwa seperti yang di alamai putra tercinta. Dia butuh perhatian, cinta dan kasih sayang seorang ibu yang tiada bandingannya. Tapi menyayangi bukan berarti memanjakan dan menuruti semua keinginannya. Ibu harus tetap mengajari dan melatih dia disiplin menjalani terapi dan mengkonsumsi obat kalau memang dianjurkan psikiater.

Dulu ketika saya berada di puncak gangguan bipolar, saya merasakan betul betapa dukungan, pendampingan dan kesabaran ayah saya sangat membantu saya bertahan. Kesabarannya yang luar biasa, memberi saya kekuatan dan motivasi untuk terus berusaha memulihkan kondisi psikis.

Tapi, disaat-saat tertentu dia juga tegas. Dia tetap menyuruh saya sekolah dan bekerja. Dia juga menyuruh saya bersosialisasi dan membuka diri. Lebih detail soal bagaimana peran ayah dalam membantu saya pulih dari gangguan bipolar, sudah saya paparkan secara gamblang di buku/ebook “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”.

Kontrol dan konsultasi rutin dengan psikiater perlu terus dijalani, sambil mengedukasi dan memberi pemahaman yang benar kepada sang putera, bagaimana seharusnya dia menjalani terapi dan pengobatan. Setelah dia memahami apa yang terjadi dengan dirinya semoga pada saatnya dia juga menyadari dan menerima dengan ikhlas apa yang terjadi dengan dirinya.

Jika dia sudah sadar dan bisa menerima diri apa adanya, proses pengobatan akan lebih mudah dan lebih efektif. Proses pemulihan kondisi psikisnya pun akan lebih cepat. Karena yang terpenting dari pengobatan gangguan jiwa adalah ada keinginan yang kuat, semangat, antusiasme dan optimisme dari si penderita untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan yang normal.

Demikian, artikel singkat ini mencoba memberi solusi praktis tentang bagaimana mendukung dan mendampingi penderita gangguan bipolar menjalani terapi dan pengobatan.
Semoga artikel ini bermanfaat.

Salam sehat jiwa.



    




Mengendalikan Perubahan Mood ODB dan Peran Obat



Beberapa orang rekan ODB (orang dengan bipolar) dan ODMK (orang dengan masalah kejiwaan), suka curhat via email, inbox facebook, telepon dan SMS. Beragam masalah yang mereka curhatkan.

Sebagian curhat tentang kesulitan bergaul, sebagian lagi tentang kesulitan mengelola moodnya, yang lain tentang kekhawatiran kecanduan obat dan yang lainnya tentang bagaimana cara agar segera pulih dari gangguan jiwa.

Kali ini saya akan membahas tentang kesulitan mengelola mood bagi seorang bipolar. Teman-teman ODB yang curhat mengenai hal ini, sebagian besar sudah pernah konsultasi ke psikiater dan sudah atau sedang mengkonsumsi obat. Mereka, rata-rata khawatir efek kecanduan dari obat. Mereka juga khawatir kalau sampai harus minum obat terus-menerus seumur hidup.

Sebagian dari mereka memilih untuk menghentikan konsumsi obat dengan alasan harga obat yang mahal atau merasa tidak ada perubahan yang berarti setelah minum obat selama jangka waktu tertentu.

Berikut penjelasan saya untuk pertanyaan diatas:

Pertama, soal mengelola mood

Harus diakui dan disadari sepenuhnya oleh ODB, bahwa proses untuk menyetabilkan mood perlu waktu, perlu kesabaran dan perlu usaha terus-menerus. Tak ada jalan pintas, prosesnya harus dijalani setahap demi setahap. Saya sering mengatakan ini di facebook, sms atau telepon. Yang penting monitor perkembangannya, ada penurunan gak intensitas fluktuasi moodnya?

Pengalaman saya dulu, pada puncaknya perubahan mood saya terjadi dalam hitungan minggu. Seminggu depresi dan seminggu manik. Lalu mulai menurun seminggu depresi dua minggu manik. Makin menurun, seminggu depresi 3 seminggu manik. Sampai akhirnya, sebulan sampai dua bulan saya tak merasakan fluktuasi mood.

Penurunan fluktuasi mood tersebut berjalan perlahan dan bertahap, berjalan sekitar satu tahun. Setelah itu apakah perubahan mood tersebut sudah tak terjadi lagi? Masih, tapi dalam intensitas yang makin menurun. Dan saya bisa merasakan perubahan itu walaupun perlahan.

Kedua, soal kekhawatiran kecanduan obat

                                                     Ilustrasi: karya Fariska Apriyani

Saya memang tidak pernah memakai obat, tapi sering konsultasi dengan psikiater, rekan-rekan ODB dan aktivis keswa tentang sejauh mana fungsi obat dalam mengendalikan perubahan mood. Saya mendengar penjelasan meyakinkan dari seorang psikiater yang dikenal dekat dengan pasiennya, dr. Hervita Diatri, SpKJ. Saya biasa menyapa beliau dr. Vita atau Mbak Vita.

Menurut dr. Vita, kurang lebih begini, konsumsi obat sifatnya hanya sementara, untuk memberi kesempatan kepada ODB belajar mengelola moodnya. Kalau ODB yang bersangkutan sudah bisa mengendalikan moodnya, konsumsi obat bisa dikurangi bahkan dihentikan secara bertahap. Obat yang diresepkan psikiater, tergolong aman dan tidak menimbulkan efek kecanduan.

Jadi kesimpulannya, mengendalikan dan menyetabilkan perubahan mood itu, perlu waktu dan proses. Demikian pula, untuk menghentikan penggunaan obat, juga perlu waktu dan bertahap, tak bisa sekaligus.

Artikel ini merupakan jawaban saya untuk pertanyaan teman-teman ODB soal pengendalian mood dan pemakaian obat. Semoga penjelasan singkat ini bisa difahami.

Salam sehat jiwa.

    




Untuk Apa Saya Berbagi Pengalaman dan Pemahaman Bipolar?

Saya senang bisa berbagi pengalaman dan pemahaman bipolar di blog, facebook, twitter, google+ dan media sosial lainya.

Saya senang bisa berbuat sesuatu untuk orang lain.

Dengan berbagi saya tak bermaksud membanggakan diri.

Saya juga tak bermaksud mengajak dan mempengaruhi siapapun untuk mengikuti cara saya menangani bipolar yang mungkin unik dan berbeda.

Lalu untuk apa saya berbagi pengalaman dan pemahaman bipolar di dunia maya dan dunia nyata?

Pertama-tama adalah sebagai media terapi untuk diri saya sendiri. Menuliskan pengalaman saya di media online, ibarat melepaskan tutup botol dan mengeluarkan jin yang terkurung di dalamnya. Dengan menulis apa yang saya ingat dan pikirkan, saya seperti menata memori pikiran saya dan membuatnya lebih teratur.

Kalau begitu, saya egois dan hanya mementingkan diri sendiri? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Tapi bukankah pada dasarnya setiap orang itu lebih mementingkan diri-sendiri. Mengutamakan kepentingan diri-sendiri sebelum kepentingan orang lain.

Apakah hanya untuk itu saya berbagi? Tentu tidak!

Dengan berbagi, sebenarnya saya bukan hanya memberi, tapi di saat yang sama juga menerima. Rasa senang dan bahagia karena bisa berbuat sesuatu untuk orang lain, itulah yang saya terima dan rasakan ketika berbagi.


Pemulihan Bipolar Saya Dibantu Banyak Orang

Walaupun saya pulih dari bipolar dengan cara saya sendiri, bukan berarti saya tak butuh bantuan atau tak pernah dibantu orang lain. Banyak orang yang telah membantu proses pemulihan bipolar saya.

Saya memang tidak pernah konsultasi langsung dengan psikolog klinis atau psikiater selama saya bergulat dengan bipolar, karena situasi dan kondisi waktu itu yang tak memungkinkan. Tapi, saya konsultasi dan belajar dari tulisan-tulisan mereka di buku, majalah, surat kabar dan internet.

Dari tulisan-tulisan merekalah saya bisa memahami gangguan bipolar yang saya alami. Dari tulisan-tulisan mereka pula saya menemukan solusi penanganan bipolar. Sampai akhirnya saya bisa pulih dari gangguan jiwa yang telah membelenggu saya selama bertahun-tahun.

Jadi, setelah saya pulih dari gangguan bipolar, sudah selayaknya saya juga membantu orang lain yang mengalami gangguan serupa.

Dari tulisan-tulisan di media online dan offline itulah saya berharap bisa berbagi dan membantu teman-teman yang masih bergumul dengan gangguan bipolar. Semampu saya tentunya.

Bagaimana Cara Saya Membantu Mereka?

Ketika ada seseorang yang curhat atau menanyakan kepada saya, apakah dia mengalami gangguan bipolar? Sebelum memberi jawaban dan penjelasan lebih lanjut, biasanya saya bertanya dulu, apakah dia sudah konsultasi dengan psikiater atau belum?

Jawaban mereka beragam, ada yang belum pernah konsultasi. Ada yang sudah konsultasi tapi belum jelas diagnosa gangguannya. Ada juga yang sudah konsultasi dan menjalani pengobatan sesuai anjuran psikiaternya.

Yang belum konsultasi dengan psikiater, saya anjurkan untuk konsultasi dulu agar diketahui dengan akurat jenis gangguannya. Yang sudah konsultasi, saya anjurkan mengikuti dan menjalankan petunjuk pengobatan dari psikiater yang merawatnya.

Saya jelaskan pada mereka, bahwa saran-saran yang saya sampaikan adalah saran-saran non medis. Karena saya bukan psikiater, psikolog atau profesional keswa. Apa yang saya sampaikan berdasarkan pengalaman, pengetahuan dan pemahaman saya tentang bipolar. Berdasarkan hal-hal itu pula saya menulis di blog dan situs media sosial.

Saya tidak mengatakan bahwa terapi pemulihan yang saya jalani adalah yang terbaik. Karena beragamnya penyebab, gejala dan tingkat gangguan bipolar yang dialami setiap orang, cara penanganannya pun tentunya berbeda-beda. Terapi yang cocok untuk saya, belum tentu cocok untuk orang lan.

Berbeda Jalan namun Tujuannya Sama

Saya juga tak ingin memperdebatkan soal ODB yang menggunakan obat atau tidak. Perdebatan hanya akan memperuncing perbedaan dan membuat dua pihak yang berdebat meresa tidak nyaman. Lebih baik saling memahami dan mencari titik temu di antara keduanya.

Meski demikian, kita tetap harus memberi ruang kepada yang menggunakan obat atau tidak untuk berbagi pengalaman pengobatannya. Untuk mencari titik temu dan mencari tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Walaupun berbeda pendapat, cara dan jalan, namun tetap saling menghargai dan menerima perbedaan, karena kita punya arah dan tujuan yang sama, mencari solusi terbaik penanganan bipolar.


Jadi, mari kita bersama-sama mencari solusi terbaik penanganan gangguan bipolar. Mengembangkan terapi dan pengobatan yang sudah ada sambil terus mencari dan menggali metode-metode pengobatan baru yang lebih baik.

Jika anda punya pengalaman dan pemahaman yang unik atau sesuatu yang baru tentang bipolar, silakan berbagi di komentar. Walaupun hanya sebaris kalimat, pendapat anda sangat berarti.

Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Antara Atlet dan Orang Dengan Bipolar

Saya tertarik dengan tulisan yang cukup menyentak di sebuah blog populer yang ditulis seorang jurnalis dan blogger senior yang sangat dikenal di jagad maya, Ndoro Kakung.

Dalam salah satu posting blognya berjudul “Badminton Pecas Ndahe” Ndoro Kakung mengupas sisi lain seorang atlet. Tulisan yang menarik dan berbobot dari seorang blogger senior. Berikut kutipannya.

Seorang atlet tak lahir dalam semalam. Ia telah berjalan jauh sebelum akhirnya tiba di puncak kejayaan. Legenda bulutangkis Indonesia Rudy Hartono, juga “raja smash” Liem Swie King, atau Hastomo Arbi, Taufik Hidayat, misalnya, berbulan-bulan menggedor dirinya sendiri. Mereka mengibaskan raket ribuan kali, berlari puluhan kilometer memutari lapangan, mengangkat barbel, senam, push-up, sit-up, dan seterusnya.

Tubuh memang tak bisa dibiarkan terkulai seperti baju lusuh. Tubuh seorang atlet ibarat busur yang direntang sebelum sebuah performance ditembakkan.

Tubuh juga misteri. Banyak hal bisa terjadi pada saat yang menentukan tiba. Latihan berbulan-bulan pada dasarnya adalah untuk mengatur pelbagai hal yang mungkin itu ke dalam suatu tertib. Dan pertandingan, adalah ujian terpuncak untuk mengalahkan misteri itu.

Seorang atlet dengan demikian, jauh di dasar dirinya, adalah seorang yang sendirian.
Itulah yang umumnya tak terlihat oleh para penonton, ketika seorang atlet bertanding. Memang ada lawan, tapi pada akhirnya lawan terutama ada dalam diri sendiri. Jantung yang seperti digenjot kaki setan itu bukan milik jutaan orang. Juga ketegangan, juga kecemasan, sebenarnya tak dapat dibagi-bagi.


Apa Kaitan antara Atlet dengan ODB?

Lalu, apa kaitannya antara atlet seperti yang dibahas dalam tulisan di atas dengan ODB? Biar nggak penasaran, silakan simak tulisan ini sampai selesai.

Untuk meraih sukses sebagai seorang atlet, butuh kerja keras, ketekunan, disiplin dalam melatih diri untuk mencapai prestasi terbaik. Jangan berpikir bahwa untuk mencapai prestasi puncak bisa didapat dengan cara instant.

Begitu pula untuk keberhasilan mengelola kondisi psikologis, butuh kerja keras, ketekunan dan disiplin menjalani terapi dan pengobatan.

Atlet butuh seorang pelatih untuk mengarahkan, mengawasi dan memastikan apa yang dilakukan sang atlet benar, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu prestasi puncak sang atlet.

Psikiater, ibarat seorang pelatih bagi seorang ODB. Dia akan mengarahkan, mengawasi dan memastikan terapi dan pengobatan yang dijalaninya, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, yaitu kondisi psikologis yang lebih baik.

Saat seorang atlet melatih otot dengan mengangkat barbel, dalam kondisi tertentu dia merasa sudah tak kuat lagi mengangkat beban yang tarasa sangat berat, namun sang pelatih memintanya terus mengangkat sampai hitungan terntentu kerena sang pelatih tahu dia bisa. Sang atlet hanya merasa tidak akan kuat. Dan ternyata dia kuat.

Kadang kita berpikir, sudah tak kuat lagi dengan beban psikologis yang terasa sangat berat. Namun ketika kita bertahan dengan segala daya, ternyata kita bisa melewatinya.

Bukan Sekedar Perumpamaan

Aktivitas fisik seorang atlet di atas juga bukan sekedar perumpamaan aktivitas mental seorang bipolar, tapi merupakan salah satu ‘suplemen’ yang bisa membantu proses pemulihan bipolar. Banyak ODB mengakui bahwa aktivitas fisik seperti olahraga yang dilakukan secara kontinyu dan konsisten, berpengaruh positif bukan hanya untuk kebugaran fisiknya tapi juga kebugaran mentalnya.

Pengalaman saya sendiri, yang saya lakukan, tanpa saya sadari ternyata berpengaruh besar terhadap pemulihan kondisi mental saya. Saya berani mengatakan olahraga mempercepat proses penyembuhan bipolar saya.

Seorang atlet bukan melulu melatih kekuatan fisik dan melatih teknik permainannya, meraka juga melatih kekuatan mentalnya. Mengapa? Karena saat bertanding seorang atlet tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan fisik dan penguasaan teknik semata, tapi harus bisa mengendalikan kecemasan dan ketegangan mentalnya. Pada situasi tertentu bahkan kekuatan mental lebih penting dibanding kekuatan fisik.

Selain itu saat berlatih atau bertanding, seorang atlet juga melakukan interaksi sosial dengan sesama atlet, pelatih, official dan supporter. Jadi dalam olahraga selain aktivitas fisik juga ada aktivitas mental dan sosial. Itulah mungkin mengapa aktivitas olahraga berpengaruh positif terhadap kondisi mental seseorang.

Apakah kerja keras kita secara fisik, mental dan sosial bisa menjamin pemulihan problem psikologis? Belum tentu! Tapi kalaupun kita belum mencapai pemulihan kondisi mental seperti yang diharapkan, paling tidak kita sudah melangkah mendekati tujuan. Sebaliknya jika kita tak pernah bergerak, hanya berdiam diri dan meratapi nasib, mengharap datangnya keajaiban, kita tak akan pernah mencapai apa pun.

Nah, dari penuturan di atas, saya hanya ingin menyarankan, selain menjalani terapi dan pengobatan sesuai petunjuk psikiater, ada baiknya anda meluangkan waktu untuk berolahraga sesuai minat anda. Tapi, bukan olahraga yang hanya dilakukan sewaktu-waktu atau sekedarnya. Anda harus melakukannya dengan teratur, disiplin dan konsisten.

Olahraga tidak butuh biaya besar dan anda bisa melakukannya dengan senang hati. Silakan coba jalani, nikmati prosesnya, monitor dan rasakan pengaruhnya terhadap kondisi psikis anda.

Klo mau anda bisa sharing pengalaman terapi bipolar yang pernah atau sedang anda jalani di Curhatkita.

Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Mimpi Buruk Bukan Alasan Tuk Terpuruk

Testimoni buku yang menyentuh dari seorang sahabat yang juga rekan kerja

Oleh Nur Purnama

Jumat, 8 April 2011- 00.15. Begitu ku tutup buku “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah" (by Tarjum - Elex Media) ini aku tergugu. Entah terharu, terenyuh atau sedih.

Buku ini membuatku semalaman susah tidur. Kadang ingat penulisnya, diriku sendiri dan lebih-lebih teringat seseorang yang karib yang sangat ku sayangi…

“Pak Tarjum, maaf. Saya Nur. Boleh minta tolong disiapkan data JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) selama 3 bulan, Pak?” Itu sekilas perkenalanku dengan Pak Tarjum --penulis buku hebat ini-- rekan kerjaku di sister company tempat aku bekerja sekarang.

Lelaki itu sangat pendiam. Bahkan kalimat pembukaku tadi hanya dijawabnya “Baik, Bu”. Tidak ada pernyataan apapun, kecuali setumpuk dokumen JPK siap untuk diperiksa. Setelah itu senyap. Tak ada lagi basa-basi, sapaan, candaan apalagi diskusi.

Tak mengira jika sosok sangat teramat sangat pendiam itu menyimpan rahasia diri yang pilu, menyimpan energi luar biasa dan bahkan ide besar yang nyaris siapapun tak kan bisa membayangkannya.

Dan buku ini lahir dari tangan dan kepalanya. Bukan buku biasa. Bukan novel romantika cinta, bukan antologi kisah lucu-lucuan, bukan pula buku puisi yang menghanyutkan. Ini buku memoar. Pun bukan memoar biasa tentang profesi, gaya hidup, travelling atau hobi. Tapi memoar psikologi, yang dengan sangat berani mampu membuka kekelaman masa lalu sebagai pengidap masalah kejiwaan bipolar (manic depresif) yaitu suatu siklus kejiwaan yang bergantian antara periode depresi dan mania. Bagaimana ia berjuang membebaskan diri dari cengkeraman deritanya dan mengubahnya menjadi mimpi yang sangat indah.

Saat tengah membaca buku ini, aku sempat terdiam lama…mengingat…mengumpulkan kenangan masa lalu. Mungkin aku kecil juga pernah menyimpan benih-benih bipolar. Mungkin… Entahlah, yang kuingat aku kecil sempat dihantui ketakutan luar biasa tentang hari kiamat. Aku selalu bangun pagi dan membuka jendela kamar lebar-lebar untuk memastikan matahari tidak terbit dari punggung gunung Lawu, tempat di mana saban harinya sang surya tenggelam…

Tapi dari sekian gejala yang dirasakan Tarjum kecil, hanya mengenai ‘matahari terbit di barat’ yang sama kurasakan di waktu kecil dulu. Selebihnya aku baik-baik saja, Alhamdulillah.

Selesai membaca buku ini, aku terdiam lama dan menangis pelan-pelan. Perasaan sangat bersalah dan berdosa seperti mencambuki hatiku. Sepertinya seorang yang sangat dekat denganku, saat ini tengah menderita sakit bipolar ini. Hanya aku tak menyadarinya, tak mengerti dirinya.

Tingkahnya yang menarik diri dari dunia luar, mengurung diri dalam kesedihan, dalam beberapa hari tertentu saat ‘sakit’nya kambuh dia lemah lunglai, mengeluh sakit kepala tiada terkira, mengurung diri dalam kamar hingga berhari-hari… Aku keras menduga, keadaannya ini terpicu dari sebuah kekecewaan pada diri sendiri yang sulit termaafkan. Inikah manic depresif seperti digamblangkan oleh buku ini?

Sungguh, buku ini akhirnya membukakan mata hatiku tentang penderitaannya, menyadarkanku akan kelalaianku mengerti akan dirinya. Buku ini akan segera ku kirimkan padanya, teriring permintaan maafku telah mengabaikan dan tak bisa mengerti penderitaannya serta doa dan semangat semoga dia terinspirasi untuk sembuh setelah membaca dan berkenalan dengan penulis buku ini. Amiin...

Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook.

    




Jangan Biarkan Stigma Negatif Gangguan Jiwa Mendikte Kita

Suatu malam saat kencan, seorang gadis bercerita pada sang pacar.

“A, tadi pagi, waktu aku pulang sekolah naik angkot, aku duduk berhadapan dengan seorang ibu, tetangga Aa.”

“Siapa ya? Kamu tahu namanya?” Tanya sang pacar, sebut saja namanya Dedi.

“Aku gak tahu namanya, tapi kenal orangnya. Rumahnya di samping tempat kerja Aa, terhalang satu rumah, yang cat rumahnya warna biru muda,” kata sang gadis, sebut saja Marni.

“Oh, ibu itu. Ya, ya, Aku kenal orangnya. Emang ada kejadian apa di mobil angkot tadi,” tanya Dedi makin penasaran.

“Tapi, Aa, jangan marah. Janji ya!”

“Ya, aku janji gak akan marah. Cepet ceritain dong kejadiannya!”

“Dia cerita soal Aa,” kata Marni, merenung sejenak, mengingat kembali kejadian di mobil angkot tadi siang. “Dia kayaknya nggak tahu bahwa aku pacar Aa. Dia ngobrol dengan seorang ibu yang duduk disampingnya. Dia cerita bahwa Aa, tuh dulu pernah mengalami gangguan jiwa. Dia menyebutnya stress, tapi sekarang sudah sembuh katanya,”

“Oh gitu ya. Terus perasaan kamu gimana ketika denger cerita itu?” Tanya Dedi. Matanya menatap tajam mata Marni.

“Nggak enak sih dengernya. Maksudku, aku nggak rela ada orang yang ngomongin masa lalu Aa, kayak gitu ditempat umum,” jawab Marni.

“Makasih ya, atas simpati kamu. Terima kasih juga kamu mau menerima aku apa adanya dan nggak terpengaruh oleh omongan negatif orang lain.”

“Emang Aa, gak malu atau marah klo ada yang ngomongin kayak gitu?” Tanya Marni.

“Ngapain mesti malu atau marah, apa yang dia omongin benar kok!” jawab Dedi tegas. “Aku sudah membuka diri, tak ada yang dirahasiakan dari diriku, termasuk masa laluku. Apa yang aku ceritakan pada kamu, itulah diriku yang sebenarnya, tak ada yang aku tutupi. Alhamdulillah klo kamu mau nerima aku apa adanya. Klo nggak, gak masalah bagiku, aku merasa nyaman dan mencintai diriku apa adanya. Diriku adalah pemberian terbaik dari sang maha pencipta. Aku bersyukur atas segala pemberian Tuhan untukku.” Jawab Dedi panjang lebar, diakhiri dengan seulas senyum dan pandangan mata yang menyejukan hati sang kekasih.

Stigma Negatif Penderita Gangguan Jiwa

Teman-teman, mungkin diantara anda pernah mengalami kejadian seperti cerita di atas, dengan kisah yang berbeda tentunya. Mendengar gunjingan atau omongan-omongan bernada negatif terhadap orang-orang yang mengalami gangguan jiwa.

Setigma negatif terhadap penderita ganguan jiwa memang masih melekat kuat di masyarakat, baik di pedesaan maupun di perkotaan, di lingkungan masyarakat tradisional maupun modern.

Kita memang tak bisa menghilangkan stigma negatif itu dengan mudah, karena sudah mengakar kuat di masyarakat. Namun kita bisa berusaha memberikan pemahaman yang proporsional tentang gangguan jiwa kepda publik, dengan harapan stigma negatif itu bisa dikikis, diminimalisir sampai akhirnya dihapus.

Namun, satu hal yang pasti, kita bisa mengubah cara kita menyikapi stigma negatif tersebut dengan sikap yang positif. Jangan biarkan sikap dan pandangan negatif mereka terhadap kita (ODMK) mempengaruhi dan mendikte kita. Kita mempunyai kekuasaan dan kendali penuh untuk menentukan sikap dan tindakan terbaik yang akan kita lakukan.

Apa pun yang terjadi dengan diri kita dan di sekitar kita, roda kehidupan akan terus berputar. Kita tak bisa menyia-nyiakan waktu berharga yang kita miliki hanya untuk memikirkan sikap negatif orang lain kepada kita. Kita tak bisa buang-buang energi hanya untuk menanggapi perlakuan negatif mereka.

Lebih baik kita isi hari-hari kita dengan aktivitas-aktivitas kreatif yang akan memberi nilai tambah terhadap hidup kita. Nilai tambah yang akan membuat diri dan kehidupan kita lebih bermakna bagi diri sendiri dan orang lain.

Jiwa yang merdeka tak lagi terpengaruh oleh pujian yang membahagiaakan maupun kritik yang menyakitkan.

Oh, ya. Mungkin anda bertanya-tanya, dialong sang gadis dengan pacarnya dalam cerita diatas apakah hanya fiksi atau cerita nyata?

Oke, saya buka rahasia. Cerita di atas adalah cerita nyata. Nama kedua tokoh disamarkan. Dialognya tidak persis seperti di atas, tapi inti topik dialognya seperti itu.

Siapa sebenarnya dua tokoh dalam cerita tersebut?

Yang satu ini, untuk menjaga privasi sang tokoh, saya tidak bisa membeberkannya di sini.

Jika anda punya pengalaman atau cerita-cerita unik seperti ini, silakan sampaikan di komentar atau kirim ke editor blog ini.

Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Arti Cinta Bagi Seorang Bipolar

Tulisan ini dipicu oleh pernyataan unik dan menarik Robi Krucil di status facebooknya.

“Mencintai seorang bipolar harus siap untuk memberi memberi dan memberi. Tidak ada take and give. Dan selalu bersiap mengoreksi hati. Saya Robi, dan saya Bipolar... :)))”

Arie Dabo, membuka obrolan dengan menulis komentar pertama, "Tapi yo, bipolarnya harus belajar memberi juga. Saya Arie Dabo, dan saya Bipolar."

Aniek Wijaya, menulis komentar yang mengejutkan, “Saya sedang belajar untuk tidak jatuh cinta (lagi). Karena menurut saya tidak ada cinta yang tulus. Setiap cinta pasti membuat seorang saya (yang kebetulan bipolar) terseret pada kondisi posesif, takut kehilangan juga segala kekhawatiran yang berlebihan dan amat sangat mengganggu laju perjalanan hidup saya yang sebetulnya sedang baik-baik saja.”

Kristi Swastiani ternyata sedang mencari cinta, “Saya Kristi, baru saja menginjak 27 tahun....saya bipolar dan schziofrenia.... lagi mencari laki-laki indonesia, karena si om Denmark yang satu itu katanya seh ga mau nikah ma saya...hahahahaha...”

Bisa difahami kekhawatiran Aniek, karena saya dan teman-teman bipolar yang lain mungkin juga merasakan kekhawatiran yang sama.

Islandria Gobed (caregiver yang pacarnya seorang bipolar) memberi kuncinya, bagaimana menjaga hubungan dengan seorang bipolar; sabar, pasrah, mau memberi dan bersedia mengoreksi hati sewaktu-waktu. Tapi, Islandria juga mengakui, “Ada kalanya saya juga egois, lelah, bingung, putus asa, atau malah ingin menyerah, tapi saya setuju dengan mas Robi untuk bagian yang menyebutkan bahwa niat si ODMK itu sendiri untuk sembuh sangat penting. Jangan pernah mencintai bipolar yang menolak untuk berobat atau malah tidak ingin sembuh... itu saja. Dan saya bersyukur, Arie Dabo sangat kooperatif dalam menjalani pengobatannya....Lucky Me....”

Anik, wanti-wanti kepada para bipolar lover, “Jangan ngarep, kalo elo emang cinta, ya beri saja segala yg dia butuhkan; cinta, perhatian dan jangan pernah sekali-kali berharap untuk mendapatkan balasan. Kalau tidak siap seperti itu, mending pensiun dini deh. Cari yang lain. Nah, kalau bersedia mengoreksi hati sewaktu-waktu, artinya harus siap dengan segala konsekwensi ketika si bipolar ini udah menya-menye nggak jelas membagi kapling hatinya, atau tiba-tiba marah nggak jelas padahal kesel ke siapa, tapi marahnya ke orang yang paling dekat dengannya. Sakit pasti, tapi ya harus dimaklumi. Kan udah tahu bipolar mempunyai kemungkinan untuk berbuat seperti itu”

Robi Krucil, menulis komentar yang tak kalah mengejutkan, “Menjadi caregiver bipolar memang tugas berat. Salute untuk yang berani mencoba apalagi yang mampu bertahan. Saya berani bilang bahwa mencintai bipolar itu ndak ada untungnya. Tanya sama hati kecil mbak Islandria, ada ndak untungnya mencintai mas Arie (Arie Dabo)?”

Robi juga wanti-wanti, “Menjadi caregiver bipolar memang harus siap resikonya. Tapi menjadi bipolarnya juga harus mau membenahi diri. Jangan karena bipolar maka jadi merasa boleh marah-marah ndak jelas. Atau menjadikan para caregiver sebagai pelampiasan emosi. Tolong diingat, para caregiver inilah yang sekuat tenaga merawat dan memperhatikan kita saat kita relaps. Jadi kita juga harus belajar memberi dong. Bipolar harus mau belajar!”

Aniek memberi pehamanan, apa sebenarnya yang dinginan wanita dari pasangannya. “Wanita butuh banyak kalimat-kalimat peneguhan dan bukti, sekedar sebaris sapaan di pagi, siang dan malam hari. Butuh perasaan bahwa si wanita itu dibutuhkan keberadaannya, dan jaminan bahwa ketika si wanita itu ada sesuatu yang ingin diungkapkan atau sedang terbelit masalah, ada seseorang yang siap dengan bahu pereda dukanya.

Oh ya, kadang perempuan cuman butuh didengarkan ketika curhat, bukan mencari solusi (karena kalau wanita pinter, biasanya siap dengan sejuta solusi). Buat kenyamanan aja, bahwa ada yg memperhatikannya.

Saya tergoda nimbrung obrolan mereka yang sangat menarik.
“Obrolan ringan yang jujur dan inspiratif. Penuh canda namun bermakna. Menurut saya yang tak sepenuhnya memahami cinta, cinta yang tulus menyehatkan dan membahagiakan bagi yang memberi atau menerima. Oke lah, mungkin seorang bipolar butuh perhatian dan cinta berlebih, tapi bukan berarti bipolar tak bisa memberi. Seorang bipolar itu peka dan sensitif, artinya perasaannya lebih halus dan bisa lebih memahami perasaan orang lain, termasuk perasaan orang yang dicintainya.

Seorang bipolar juga akan banyak memberi kepada orang yang dicintainya. Labilitas moodnya yang kadang tak terduga dan mengejutkan justru akan membuat dia tak membosankan bagi pasangannya. Seperti kata sebuah iklan “Perempuan mudah bosan” (maaf bukan memojokan perempuan..:D..). Perempuan juga suka tantangan. Seorang bipolar akan sangat menarik dimata perempuan karena dia beda dari pria kebanyakan. Kata seorang pakar relationship, perempuan bukan ingin diperlakukan sepesial, tapi dia ingin menjadi spesial. Perempuan yang menjalin hubungan dengan seorang bipolar adalah perempuan sepesial.

Kekurangan kadang menjadi kelebihan bagi seseorang. Seorang bipolar punya kenunikan yang tak dimiliki orang lain.”

Heri Pureness, menyampaikan pendapatnya tentang cinta, “Kita pasti tanpa disadari pernah dibenturkan oleh waktu utk mencintai dan dicintai dlm ranah cinta yg lebih universal.. t'masuk didalamnya membangun sebuah relantionship yg tangguh di tengah keterbatasan mnjadi cerdas tanpa batas memaknai cinta itu sendiri...

Robi Krucil, yang masih menahan diri untuk menjalin hubungan cinta, menulis sebuah pengakuan yang berani, “Bipolar memang sangat tidak stabil. Untuk bipolar yang sangat ekstrem perubahan moodnya seperti saya, sangat tidak mudah menemukan pasangan yang cocok dan mengerti. Pada saat saya depresi, jangankan untuk mencintai, untuk bergerak saja saya susah, apalagi mencari nafkah.”

Robi juga membalas komentar saya, “Bisa mas Tarjum bayangkan apa jadinya rumah tangga saya dengan kondisi saya depresi? Lalu dikala saya manik, saya akan menjadi orang yang pemarah, sangat ambisius, tidak bisa diam, tidak bisa menolak godaan, dan lain sebagainya.

Saya Bipolar ekstrem Mas, dan saya ingin sembuh. Tapi untuk sementara, saya harus mengakui bahwa untuk diri saya, saat ini saya tidak bisa hidup berpasangan tanpa menyakiti pasangan saya.”

Saya mencoba memahami keengganan Robi untuk menjalin sebuah hubungan, walaupun seperti yang dia bilang, itu hanya sementara. “Saya ngerti apa yang Mas Robi Krucil rasakan saat ini walaupun tidak sepenuhnya. Saya aja yang kategori bipolar ringan sempat psimis, bisakah saya menikah dan punya keluarga dengan kondisi mental yang labil? Yang kadang untuk mengurus diri sendiri aja gak bisa?

Saya baru berani menjalin hubungan dengan wanita sekitar 5 tahun setelah kondisi mental saya menuju pemulihan. Ternyata selama itu, beberapa gadis menunggu saya (maaf bukan sok ganteng…walaupun sebenarnya lumayan ganteng..:D). Begitu saya mendekati seorang gadis, beberapa gadis lain yang saya kenal mencoba mendekati saya, bahkan ada yang cukup agresif, menyatakan cintanya lebih dulu. Artinya seorang bipolar dengan segala kekurangannya (saya lebih suka menyebutnya keunikan) sebenarnya punya daya tarik tersendiri di mata wanita.

Saya suka dengan pernyataan mas Robi, “untuk sementara…..”. Pernyataan yang positif dan optimis. Saya yakin walaupun mas Robi, belum menyatakan cintanya kepada seorang wanita…beberapa orang diam-diam menunjukan ketertarikannya pada Mas Robi. Bener gak mas? Hanya mas Robi yang tahu.”

Saya menanyakan hal yang agak sensitif kepada Islandria Gobed, “Klo boleh tahu....apa saja hal menarik dari Arie Dabo dimata dan hati Islandria, dari segi fisik, karakter dan kepribadian? ya...untuk bahan pembelajaran kita-kita para pria...:) Ari Dabo, mohon jangan geer dulu ya..:D

Islandria, dengan agak malu-malu, menjawab pertanyaan saya tentang Arie Dabo kekasihnya dengan diplomatis, “Hahaha.... apa ya Mas Tarjum. cannot explaining secara detail nih kalo begini...
Saya juga kadang-kadang bingung kok kenapa bisa bertahan.
Tapi Mas Robi lagi-lagi betul bahwa hati yang ikhlas, sabar, cinta yang penuh, segudang maaf, pengertian dan dompet yang tebel sangat diperlukan untuk menghadapi sang bipolar.

Robi Krucil juga membalas komentar saya tentang keunikan dan kelebihan seorang bipolar, “ Mas Tarjum, siapa bilang bipolar tidak punya fans Mas? Coba tanya sama Mas Arie Dabo, dia punya deretan fans yang bejibun sampe mbak'e Is (Islandria maksudnya) megap-megap... :D

Saya juga begitu.... Bipolar punya daya tarik tersendiri untuk wanita terutama pada saat mereka manik.
Tapi untuk masalah bertahan... itu lain soal. Karena itulah masalah cinta bagi seorang bipolar sangat rumit.”

Elma Marviani, seorang bipolar yang sudah berkeluarga dan punya anak, berbagi pengalaman.
“Aku Bipolar. Karena bipolar aku telah menyakiti sahabat aku yg hampir setengah hidupku bersahabat dengan dia.

Untuk masalah perceraian seorang bipolar memang tinggi. Dulu aku pernah mengalami hampir terpuruk dan jatuh ke perceraian. Alhamdulilah sekarang baik-baik. Memang gak gampang seorang bipolar untuk menjalani sebuah komitmen. Apa lagi seorang ibu seperti saya yg kadang ada kalanya aku pingin sendiri tanpa ada gangguan dari anak. Tapi itulah ujian yang harus dihadapi, gimana mengendalikan mood aku yg naik turun. Alhamdulilah sekarang dah jauh banyak berubah di banding waktu aku baru punya anak.

Memang sih gak bisa di pungkiri, kadang rasa malas atau rasa pinginmarah-marah masih ada. Akhirnya aku sekarang berusaha pingin menjadi seorang ibu yang baik bagi anakku. Itulah motivasi terbesar aku pingin sembuh dari bipolar.”

Aniek, masih dengan pendiriannya, “Saya harus mengakui bahwa untuk diri saya saat ini, saya tidak bisa hidup berpasangan tanpa menyakiti pasangan saya. Tanpa menyakiti dan tersakiti. Dengan kata lain agar tak saling melempar lara.”

Mengakhiri rangkaian komentar di statusnya, Robi melontarkan gurauan yang mengundang senyum namun cukup mengena, “Laki-laki bipolar adalah bayi yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Jadi tingkah lakunya seperti bayi, bisanya nangis, tertawa dan bermain.

Membaca komentar ini saya tersenyum tapi merenung, rasanya dulu saya pernah mengalami kondisi seperti itu.

Itulah tulisan tentang cinta seorang bipolar yang saya kutif dari status facebook Robi Krucil. Semoga tulisan ini bermanfaat, bisa memberi pemahaman dan inspirasi.

Mengakhiri tulisan ini saya hanya ingin mengatakan, “Setiap orang berhak mencintai dan dicintai, tak terkecuali seorang bipolar.”

Apa dan bagaimana arti cinta menurut anda? Silakan sampaikan di komentar.

Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Stigma Negatif Penderita Gangguan Jiwa

Penyakit jiwa, sampai saat ini masih dianggap sebagai penyakit yang memalukan, menjadi aib bagi si penderita dan keluarganya.

Masyarakat kita menyebut penyakit jiwa pada tingkat yang kronis seperti hilang ingatan, dengan sebutan yang sangat kasar seperti: gila, sinting atau otak miring (OTM). Istilah gila menurut seorang psikolog sudah tidak dipakai lagi dalam dunia psikologi. serta sebutan-sebutan kasar lainnya.

Salah kaprah pengertian dan pemahaman tentang penyakit jiwa ini, mungkin karena ketidaktahuan masyarakat pada masalah-masalah kejiwaan dan kesehatan mental. Ketidaktahuan ini mengakibatkan persepsi yang keliru, bahwa penyakit mental merupakan aib bagi si penderita maupun bagi keluarganya. Sehingga si penderita harus disembunyikan atau dikucilkan, bahkan lebih parah lagi, ditelantarkan oleh keluarganya.

Selain itu, ada anggapan keliru di masyarakat bahwa penderita gangguan jiwa hanya mereka yang menghuni rumah sakit jiwa atau orang sakit jiwa yang berkeliaran di jalanan. Padahal gangguan jiwa bisa dialami oleh siapa saja, baik disadari ataupun tidak. Orang yang tampaknya sehat secara fisik pun bukan tidak mungkin sebenarnya menderita gangguan jiwa dengan kadar yang ringan.

Sebenarnya apa sih bedanya orang yang sakit jiwa dengan orang yang sakit fisik? Sama-sama menderita sebenarnya! Bahkan derita jiwa jauh lebih berat dan menyiksa dibanding derita fisik yang paling berat sekalipun.

Lalu adakah alasan yang logis dan rasional untuk merasa malu karena seseorang atau anggota keluarganya menderita kelainan jiwa? Sama sekali tidak ada! Tidak ada alasan untuk merasa malu karena menderita gangguan jiwa, ini hanya masalah persepsi.

Tempat terbaik bagi penderita gangguan jiwa bukan di panti rehabilitasi mental atau di rumah sakit jiwa, apalagi ditelantarkan di jalanan, tapi berada di tengah-tengah keluarganya, diantara orang-orang yang dicintai dan mencintainya.

Yang mereka butuhkan selain pengobatan medis adalah perhatian, pengertian, dukungan, cinta dan kasih sayang. Perhatian dan kasih sayang tulus keluarga dan orang-orang terdekatnya akan sangat membantu proses pemulihan kondisi jiwanya.

Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Apa itu Gangguan Bipolar?

Saya tidak akan menjelaskan definisi gangguan bipolar secara detil di e-book ini. Saya percaya, para pembaca sekalian sudah sangat faham apa dan bagaimana pengertian gangguan bipolar. Saya hanya akan menjelaskan definisi gangguan bipolar sekilas dan singkat saja.

Informasi pertama tentang ganggauan bipolar saya dapatkan pertengahan September 2001, dari majalah Awake!, majalah non komersial terbitan Watchtower Bible and Tract Society of New York Inc.. Edisi bahasa Indonesianya terbit di Malaysia bernama Sedarlah!. Artikel utamanya membahas tentang gangguan jiwa pada remaja, dengan judul “Bantuan bagi Remaja yang Depresi”.

Berikut kutifan artikelnya.

Menurut Barbara D.Ingersol, Ph.D dan Sam Goldstain, gangguan bipolar (juga dikenal sebagai ganguan manik depresif) adalah "suatu kondisi yang dicirikan oleh episode depresi yang diselingi dengan periode manakala suasana hati dan energi sangat meningkat. Begitu meningkatnya hingga melampaui batas normal suasana hati yang baik".

Fase peningkatan ini disebut mania. Gejalanya mungkin mencakup berpikir dengan sangat cepat. Cerewet, dan penurunan kebutuhan untuk tidur. Bahkan, sipenderita dapat terjaga selama berhari-hari tanpa tidur, tetapi tidak menunjukan tanda-tanda kehabisan energi.

Gejala lain dari gangguan bipolar adalah perilaku yang sangat impulsif tanpa memikirkan konsekwensi. "Mania sering kali mempengaruhi cara berpikir, penilaian, dan prilaku sosial dengan cara yang menimbulkan problem serius dan hal-hal yang memalukan," kata laporan yang dibuat oleh Institut Kesehatan Mental Nasional AS.

Berapa lama fase mania ini berlangsung? Kadang-kadang hanya beberapa hari; dalam kasus lain, mania terus berlangsung selama beberapa bulan sebelum akhirnya digantikan oleh pasangannya, depresi.


Yang paling beresiko mengalami gangguan bipolar adalah orang-orang yang anggota keluarganya mengidap penyakit itu.

Kabar baiknya adalah bahwa ada harapan bagi para penderita. "Jika didiagnosis lebih awal, dan ditangani sepatutnya," kata buku The Bipolar Child," Anak-anak itu serta keluarga mereka dapat menjalani kehidupan yang jauh lebih setabil.

Penting untuk diperhatikan bahwa satu gejala saja tidak memperlihatkan adanya depresi atau gangguan bipolar. Seringkali diagnosis didapat dari serentetan gejala yang terlihat selama suatu jangka waktu Pikiran yang Tersiksa.

Di seluruh dunia, depresi dan gangguan bipolar menyerang jutaan pria dan wanita. Bagaimana mereka dapat dibantu?

Dalam tahun-tahun belakangan ini, gangguan bipolar telah mendapat lebih banyak perhatian publik. Gejala penyakit ini mencakup perubahan suasana hati yang parah, yang bolak-balik antara depresi dan mania. “Selama fase depresi," kata sebuah buku yang diterbitkan oleh Ikatan Dokter Amerika, "Anda mungkin dihantui oleh gagasan untuk bunuh diri. Selama fase mania penyakit Anda, penilaian Anda yang baik mungkin lenyap dan Anda mungkin tidak bisa melihat bahayanya tindakan Anda."

Gangguan Bipolar—Selalu berubah-ubah

"Kestabilan adalah tempat bertamu penderita bipolar. Tak seorang pun dari kami yang benar-benar tinggal disitu."—Gloria.

Depresi klinik memang penuh tantangan. Namun, sewaktu ditambah lagi dengan mania, hasilnya disebut gangguan bipolar. "Satu-satunya hal yang konsisten tentang gangguan bipolar adalah bahwa itu tidak pernah konsisten." kata seorang penderita.

Kata The Harvard Mental Health Letter, “Pasien bipolar, selama mania dapat sangat suka ikut campur dan mendominasi.

Apa penyebab gangguan bipolar?

Salah satunya adalah faktor genetis—yang lebih kuat dari pada faktor depresi. "Menurut beberapa kajian ilmiah," kata Ikatan Dokter Amerika, "Anggota keluarga dekat dari penderita depresi bipolar lebih cenderung mengalami penyakit ini 8 hingga 18 kali daripada anggota keluarga dekat dari orang yang sehat.

Kontras dengan depresi, gangguan bipolar tampaknya menyerang pria dan wanita dalam jumlah yang sama. Sering dimulai sewaktu seseorang baru menginjak dewasa, tetapi kasus-kasus gangguan bipolar telah didiagnosis pada remaja dan bahkan anak-anak.

Meskipun demikian, menganalisis gejalanya dan menarik kesimpulan yang benar dapat sangat sulit bahkan bagi seorang pakar medis. "Gangguan bipolar adalah bunglonnya gangguan kejiwaan, mengubah tampilan gejalanya dari satu pasien ke pasien lain, dan dari satu episode ke episode lain bahkan pada pasien yang sama," tulis dr. Francis Mark Mondimore dari Fakultas Kedokteran di Jhons Hopkins University.

"Ia bagaikan siluman yang dapat menyelinap mendatangi korbannya dengan berjubahkan gelapnya kesedihan tetapi kemudian menghilang selama bertahun-tahun—lantas datang kembali dengan berjubahkan mania yang terang-benderang tetapi berapi-api."

Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Ebook "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Jika orang yang anda cintai mengalami Gangguan Bipolar, Apa yang sebaiknya anda lakukan?

Ebook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar.



Buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"
Psikomemoar Seorang Bipolar

Buku ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan problem psikis yang tidak saya fahami. Yang membuat saya terus bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya justru baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya bisa melepaskan diri dari belenggunya.

Buku ini bukan hanya bercerita tentang pengalaman psikologis, tapi tentang perjuangan seorang anak petani untuk mewujudkan impiannya, Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah.

Sinopsisnya silakan baca di sini.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code