Ternyata banyak komentar kritis untuk artikel “Dialog Kritis tentang Solusi Penanganan Ganngguan Bipolar”Artikel tersebut saya share di facebook, twitter, linkedIn dan Google+.
Komentar-komentar kritis tersebut ada yang langsung ditulis di blog, di grup facebook “Solusi Bipolar”, “Bipolar Indonesia”, “Publikasi Psikiatri Indonesia (PDSKJI)” page fb “Blog Curhatkita” dan pesan facebook.
Mereka yang ikut urun rembug dan memberi komentar juga beragam: ODB, caregiver, aktivis keswa, profesional keswa dan psikiatri.
Untuk apa saya mengangkat topik ini melalui blog dan sharing di situs jejaring sosial?
Bukan untuk memperdebatkan suatu masalah atau memperuncing beda pendapat tentang salah satu masalah kesehatan jiwa.
Tapi untuk menjernihkan masalah dan mencari titik temu. Tujuan utamanya, sesuai nama dan tema blog ini “Solusi Bipolar”, untuk mencari dan menemukan solusi terbaik penanganan gangguan bipolar.
Jadi walaupun berbeda pendapat kita tetap saling menghargai, karena tujuan kita adalah untuk mencari solusi.
Berikut komentar-komentar kritis untuk artikel “Dialog Kritis tentang Solusi Penanganan Ganngguan Bipolar”
Komentar dan dialog dengan profesional keswa dan psikiatri yang tergabung di grup facebook “Publikasi Psikiatri Indonesia (PDSKJI)”
R Surya Widya:
Obat-obatan memang hanya mengurangi gejala, tidak pernah menyembuhkan secara total, juga memberikan efek samping yang tidak enak.
Tarjum:
Makasih dok atas komentarnya. Jadi bagaimana menurut anda penanganan terbaik untuk gangguan bipolar? Karena pemahaman sebagian besar ODB tentang hal ini masih minim.
R Surya Widya:
Dalam keadaan akut, terapi psikofarmaka adalah suatu keharusan, setelah itu masih banyak model terapi yang lain bisa membantu pasien menjadi lebih baik.
Andri Andri:
Ada beberapa aliran Anti-Psychiatry yang memang berkembang di dunia ini, salah satunya juga menampilkan penelitian-penelitian dan pasien-pasien yang "gagal" diobati.
Saya memahami apa yang ditulis oleh Anonim, mungkin beliau melihatnya dari segi betapa industri farmasi telah berkembang luas, yang tidak beliau pikirkan apakah dengan memakan obat ada perubahan dalam kualitas hidup orang tersebut, mungkin tidak dikategorikan "sembuh" tetapi akan ada perbaikan dan membuat keluarganya lebih baik. Saya rasa itu suatu kesembuhan. Thanks pak Tarjum Sahmad sudah berbagi. Salam.
Tarjum:
Makasih informasinya dr Andri, ini menambah wawasan saya tentang dunia psikiatri dan kesehatan jiwa.
Satti Raja Sitanggang:
Perlu usaha,waktu, tenaga dan dana. Yang tidak kalah penting kerja sama untuk membuka wawasan masyarakat termasuk praktisi kesehatan tentang kesehatan jiwa.
Bagaimanapun obat tetap diperlukan sesuai indikasi,tepat dosis, tepat sasaran dan sebisanya terjangkau karena sesuai yang saya dapat di kuliah, faktor biologi sangat berperan dalam bipolar walau hal yang tidak kalah penting tentu saja dibarengi psikotherapi yang sesuai.
Jalan masih panjang, tergantung apa kita mau lanjut sampai akhir atau menyerah. Dan menurut saya kita harus lanjut.
Tarjum:
Makasih sharingnya Pak Satti.
Memang selama ini, terutama mereka yang belum terjangkau informasi yang memadai tentang keswa, belum memahami bahkan belum tahu bahwa gangguan jiwa seperti Skizofrenia dan bipolar bisa ditangani secara medis. Mereka yang tahu pun masih merasa khawatir tentang efek samping dan efek kecanduan dari obat. Ini mungkin yang masih perlu sosialisasi.
Khairi Sembiring:
Bagi kami, saya khususnya, yang diobati pakai psikofarmaka itu yang terganggu fungsinya, kemudian dengan psikofarmaka (dan terapi lainnya selain psikofarmaka) itu, fungsinya menjadi lebih baik, kehidupannya menjadi lebih berarti.
Mengenai efek samping obat, itu juga kita pikirkan, kita pilih mana yang terbaik dari kondisi pasien, dengan dibiarkan tanpa obat, atau diobati dengan resiko ada sedikit efek samping obat.
Kalau yang gak perlu obat, ya ngapain juga dikasih obat, apalagi kalo yang didapat hanya efek sampingnya, itu namanya iatrogenik. Makanya jadi dokter itu bisa memudahkan orang masuk sorga, tapi sebaliknya kalau gak hati-hati, bisa menyemplungkan ke neraka, karena kalo sering buat kesalahan di kumpul-kumpul itu jadi banyak, kan dokternya yang tanggung itu semua. Jadi kalo kita debat terus antara yang pro obat dan tidak....tanpa memahami kaedah-kaedah yang logis, yang berguna untuk kehidupan, yang ilmiah, bisa-bisa kontra produktif.
Tarjum :
Mbak Khairi Sembiring terima kasih atas komentar dan urun rembugnya.
Komentar-komentar kritis seperti yang saya posting di blog ini sebenarnya sering saya terima baik di blog, email, situs media sosial bahkan melalui sms. Biasanya saya tanggapi sesuai dengan apa yang saya tahu dan fahami, karena saya tak ingin memperdebatkan hal-hal seperti itu. Apalagi jika kritik-kritik itu bukan membangun tapi menyerang.
Sebagai tuan rumah (pemilik blog) saya harus menghormati para tamu blog saya, sekritis apa pun pendapat mereka.
Namun saya perhatikan, sang komentator kritis kali ini sepertinya orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang dunia psikiatri. Padahal pemahaman saya soal psikiatri sangat terbatas.
Karena itu, saya himpun komentar-komentar kritis tersebut menjadi satu posting blog agar bisa difahami lebih utuh dan jelas inti komentarnya. Dan saya meminta para ahli bidang keswa dan psikiatri untuk urun rembug dan mengemukakan pendapat.
Dari komentar-komentar para ahli itu, saya sendiri, rekan-rekan ODB, ODS dan ODMK bisa menilai pendapat dan pemahaman mana yang bisa diambil dan digunakan sebagai acuan terkait penanganan gangguan bipolar dan gangguan kejiwan secara umum.
Ibaratnya saya ini seorang jurnalis yang menyampaikan informasi bidang keswa dan psikiatri dari sumber-sumber terpercaya. Sebagai penyampai informasi saya harus tetap netral terhadap mereka yang berbeda pendapat. Karena saya percaya, publik juga sudah cukup pintar dan bijak untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.
Khairi Sembiring:
Masalahnya orang itu pak Tarjum, sering beraninya di kalangan yang tidak mengerti, atau kalau dia gabung dengan orang yang mengerti ilmunya, dia pakai kata 'pokoknya', atau mendahulukan 'paranoidnya', jadi sulit diajak diskusi.
Saya kalo sama orang kayak gitu, bilang gini (kalo dia sehat mental ya), gini aja, kalo anda udah gak sempat (atau 'gak mampu') ngambil kedokteran terus selanjutnya psikiatri, maka utuslah orang terpercaya anda untuk sekolah disana.
Misalnya adik atau anak kandung, kalo udah sama-sama kemampuan ilmunya, baru kita bisa diskusi (maaf ini bukan untuk menyombong ya....tapi memang begitu adanya). Kalo orang kepercayaan anda udah jadi psikiater, tanya sama dia, kalo itu gak anda percayai juga....wah mending introspeksi diri deh.
BTW, saya tidak menutup mata pada teman sejawat saya yang terlalu fokus kasih obat, lupa psikoterapi dan terapi-terapi lain kayak terapi sosial , terapi okupasi dll. Kami juga semangat untuk selalu meningkatkan regulasi itu, karena mungkin faktornya juga ada beberapa. Bila perlu di kritik, selama itu membangun, maka itu tugas kita bersama.
Andri Andri :
Saya ikut menyimak saja, bagaimana pendapat Prof Ling Tan tentang ini ? Kita nantikan ya
Tarjum:
Prof Ling Tan menulis komentar langsung di blog Solusibipolar.com. Berikut saya kutif komentar beliau :
Di USA ada beberapa "hate groups" yang anti psikiatri dan secara agresip menyerang psikiatri, dengan menguraikan bahwa konsep gangguan jiwa adalah mitos belaka yang hanya didasarkan semata-mata untuk keuntungan drug companies saja.
Ini bukan fenomena baru, antara lain http://www.blogger.com/img/blank.gifdikemukakan oleh Thomas Szasz, Church of Scientology, Bonkers Institute. Kita harus selalu waspada dengan membedakan antara mitos dan fakta:
http://heretohelp.bc.ca/sites/default/files/images/Bipolar_Myths_Facts.pdf
http://psychcentral.com/blog/archives/2009/06/12/9-myths-of-bipolar-disorder/
http://www.lisamcpherson.org/cchr.htm
Anjuran saya adalah agar kita bisa mengambil posisi yang seimbang (balanced) dan menghindari posisi yang ekstrim dari kedua belah pihak (anti-psikiatri / anti obat vs pihak yang terlalu pro obat).
Bipolar adalah gangguan jiwa yang tidak dapat lagi diingkari. Dan ODB sungguh bisa memanfaatkan pengobatan yang jitu. Saran bahwa terlalu banyak orang yng mendapat diagnosa Bipolar (over-diagnosed) dengan konsekwensi mendapat obat anti-bipolar tidak bisa diingkari pula. Sehingga adanya fenomena Bipolar palsu atau "pseudo-Bipolar" yang menjadi sasaran drug companies.
Untuk membuat konklusi secara terlalu meluas (over-generalization), bahwa semua ODB adalah palsu dengan akibat tidak diberikan pengobatan, adalah mengingkari obat bagi ODB yang betul-betul memerlukannya dan sangat bisa memanfaatkannya.
Bersambung…
Komentar-komentar lain yang tak kalah kritis, menarik dan unik, silakan baca lanjutan artikelnya di blog ini.
Anda punya pendapat yang berbeda tentang topik ini, silakan berbagi di komentar.


Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?



