Curahan Hati dan Harapan Seorang Gadis Bipolar

“Saya dibawa ke RSJ dan dirawat sekitar 8 hari tanpa dijenguk keluarga. Bahkan saya sempat diikat dan diisolasi karena sikap saya yang mungkin saat itu berlebihan.”


Pagi itu, ketika membuka inbox email, ada kiriman email dari seorang gadis yang saya kenal namanya, Rani (nama samaran).

Ya, beberapa waktu yang lalu dia pernah curhat via email.

“Sebelumnya saya pernah curhat pada Mas Tarjum,” tulis Rani, mengawali email curhatnya. “Kali ini saya ingin menceritakan sebuah pengalaman bipolar saya.”

“Tulisan ini adalah salah satu isi hati yang sudah lama ingin saya curahkan pada seseorang tapi sangat sulit dikatakan sekalipun pada orang tua. Dan melalui tulisan ini saya ingin berbagi pada siapa saja,” tulis Rani mengakhiri emailnya.

Silakan simak curhat Rani selengkapnya.

Assalamualaikum wr. wb.

Saya mencoba untuk berbagi dan mengeluarkan isi hati saya yang selama ini saya pendam sendiri.

Saya baru mengetahui tentang bipolar pada tahun 2007 saat saya mengalami sendiri dan didiagnosis oleh dokter bahwa saya bipolar. Saat itu saya masih kuliah semester II di sebuah Universitas Negeri di Bandung.

Semangat Tinggi dan Hiperaktif

Yang saya ingat pada saat itu saya merasa sangat bersemangat dalam melakukan segala hal tidak hanya kuliah, tapi juga mengikuti beberapa organisasi di kampus.

Sejak SMA saya mengikuti organisasi Rohis sekolah atau kegiatan keagamaan dan mulai ikut sebuah kelompok atau mungkin organisasi keislaman yang saya dapatkan di luar sekolah dan aktif hingga saya kuliah.

Seperti organisasi lainnya kita yang sudah menjadi anggota diharuskan merekrut teman-teman lain supaya ikut bergabung di organisasi itu, saat itu dengan semangat saya yang sangat tinggi saya ingin sekali mengajak teman-teman sekelas saya untuk ikut organisasi itu, hingga saat itu saya membuat acara piknik sambil mengenalkan organisasi itu pada teman-teman di tempat kuliah saya dan dikenalkan lagi pada senior di organisasi saya.

Pokonya pada saat itu saya merencanakan acara piknik kelas itu sendiri mengatur tempat, transportasi, acara dan dana oleh saya sendiri yang kalau dipikir lagi sekarang, saya tidak mungkin bisa melakukannya jika pada saat itu mungkin saya tidak ada dalam fase manic yang sangat hiperaktif, dan baru sadar sekarang bahwa saat itu saya sudah mulai memiliki gejala bipolar.

Sampai akhirnya acara itu selesai saya masih mencari kesibukan di himpunan mahasiswa, mulai kembali ikut panitia sebuah acara yang pada akhirnya saya hanya sibuk pada kegiatan-kegiatan kampus seperti itu tanpa focus kuliah.

Dihantui Pikiran-Pikiran Aneh

Dan suatu hari saya mendapatkan bentol-bentol di tangan yang sangat banyak entah alergi dari obat, atau kena ulat tapi saat itu saya malah merasa kalau saya sedang di guna-guna dan mulai curiga pada teman-teman sekelas yang kebanyakan memang dari daerah yang pada saat itu saya pikir ada teman sekelas yang iri pada saya dan menjahili saya.

Karena saat itu saya merasa sangat percaya diri, dikelas selalu bertanya saat diskusi bahkan berdebat, dan merasa mudah dalam mengerjakan tugas, sampai-sampai saya menerima jasa pengetikan bahkan membuat makalah teman-teman saya, dari situlah saya merasa saya lebih unggul dari teman-teman saya dan merasa ada teman yang iri dengan saya sehingga saat itu saya mulai dihantui oleh pikiran-pikiran yang mengarah ke magic.

Sampai pada suatu malam saya menginap di rumah guru di organisasi saya dan malam itu saya tidak bisa tidur dan malah cerita kalau saya bisa melihat masa depan anak-anak guru saya, menceritakan bahwa anak-anak itu akan menjadi pemimpin islam dan sebagainya. Sampai akhirnya siang harinya saya disuruh pulang itupun dengan dibujuk pergi ke suatu mall karena sebelumnya saya bilang ingin jalan-jalan.

Rasa Curiga, Takut dan Histeris

Dan setelah di Mall itu saya kembali merasakan keanehan saya merasa takut pada orang-orang berseragam STPDN selama di bispun saya menatap curiga para penumpang yang pada saat itu saya merasa mata mereka merah dan punya niat jahat pada saya pokonya saat itu saya antara sadar dan tidak sadar dan peristiwa itu saya alami di luar rumah karena pada saat itu saya tidak pulang ke rumah sehingga orang tua saya belum tau apa yang terjadi pada saya.

Esoknya setelah saya pulang ke rumah, saya juga tidak terlalu ingat bagaimana proses saya bisa sampai ke rumah. Yang saya ingat setelah di rumah saya dapat telepon dari teman saya yang pada saat itu sama-sama nginep dirumah guru saya bilang kalau saya jangan dulu keluar rumah sampai akhirnya dimalam harinya saya tiba-tiba merasa ketakutan untuk ke dapur dan teriak-teriak di rumah menyuruh adik saya mengaji. Membicarakan bahwa ayah saya seperti abu bakar, ibu saya seperti umar bin khatab, dan lain-lain sampai malam itu saya tidak tidur.

Keluarga saya menenangkan saya yang ketakutan. Dan saat ayah saya mau ke mesjid shalat subuh saya merasa takut akan terjadi apa-apa sama ayah saya. Akhirnya ibu saya menyuruh kami sekeluarga ikut dengan ayah shalat di mesjid.

Dimesjid saya justru tidak konsentrasi shalat saya malah melihat ke jamaah laki-laki dan melihat cara mereka takbiratulihram dan jika ada yang beda saya mulai curiga lagi dengan orang-orang dimasjid.

Dikira Ikut Aliran Sesat

Setelah selesai ada tetangga saya yang sudah berjamaah datang dan menanyakan apa yang terjadi pada saya, karena mungkin mulai melihat keanehan didiri saya. Saat itu tanpa sadar saya hanya bertanya pada tetangga saya itu “isyhadu bi ana muslim?”, “Isykariman aumut syahidan?” lalu membaca surat Al-Baqarah yang artinya “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam islam secara keseluruhannya. Dan janganlah kamu turut langkah-langkah syeitan. Sesungguhnya syeitan itu musuh yang nyata bagimu”

Saya ulang-ulang pertanyaan dan surat Al-Baqarah itu pada setiap bapa-bapa yang ada di masjid itu hingga saya sulit pulang lagi ke rumah. Bahkan sampai dibawa ke dokter yang praktek di rumah saya untuk di suntik bius atau penenang tapi sulit karena tenaga saya yang sangat kuat saat itu.

Setelah sampai dirumah, banyak tetangga yang datang kerumah saya ada yang menyangka saya kerasukan jin, diguna-guna, sampai mendatangkan orang pintar. Pokoknya macem-macem dan melihat saya yang banyak mengeluarkan ayat-ayat Al-quran saat mencoba berbicara dengan orang-orang disekitar saya, ada tetangga saya yang menganggap bahwa saya ikut aliran sesat sampai mendatangkan guru saya dari organisasi itu.

Dirawat di RSJ dan Panti Rehabilitasi Mental

Saat guru saya datang saya memang jadi lebih tenang dan mau makan juga tidur setelah semalaman saya tidak bisa tidur dan teriak-teriak histeris. Lalu setelah orang tua saya bermusyawarah dengan tetangga saya dan mereka menyarankan saya dibawa ke RS. Jiwa.

Akhirnya dengan trik mereka saya bisa dibawa ke RSJ. Dan dirawat disana sekitar 8 hari tanpa dijenguk keluarga. Bahkan saya sempat diikat dan diisolasi karena sikap saya yang mungkin saat itu berlebihan.

Saya juga merasa antara sadar dan tidak sadar. Setelah 8 hari saya dipindahkan ke tempat Rehabilitasi mental di Cisalak, Subang dan dirawat sekitar 2 bulan kurang dan selalu dijenguk orang tua 2 minggu sekali.

Setelah keluar dari tempat rehabilitasi mental, kondisi saya memang sudah lebih baik dan tenang. Mungkin karena pengaruh obat penenang seperti CPZ diantaranya dan masih banyak lagi obat yang harus saya minum saat itu, sekitar 7 jenis.

Saya masih harus terus kontrol ke dokter di Subang satu bulan sekali. Tapi setelah pulang ke Rumah, saat itu saya mulai merasa berbeda dari kehidupan saya sebelumnya. Saya tidak bisa kuliah karena sudah ketinggalan ujian semester. Saya juga tidak diperbolehkan menghubungi teman-teman di organisasi saya, padahal merekalah teman-teman terdekat saya dari SMA. Mungkin karena organisasi itu di tuduh aliran sesat dan membuat saya stress karena pelajarannya terlalu berat.

Bersambung...


Bagaimana lanjutan cerita sang gadis bipolar ini? Bagaimana dengan studinya? Apa yang terjadi ketika dia memasuki dunia kerja? Berhasilkan dia mengatasi rintangan dan hambatan dalam kehidupannya?

Silakan simak lanjutan ceritanya besok hanya di blog SolusiBipolar.com :) .

Jika menurut anda artikel ini menarik dan bermanfaat silakan share di twitter, facebook dan Google+.

Tarjum adalah pendiri dan editor solusibipolar.com, Curhatkita, Forum Curhat, Grup Facebook Teman Curhat dan Solusi Bipolar. Penulis buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini. Ikuti Tarjum di Facebook, Twitter, Google+ dan LingkedIn.

    





Bookmark and Promote!

3 komentar:

Anonim mengatakan...

setiap masalah akan terasa berat saat kita menjalaninya, tapi setelah berlalu semua masalah itu akan menjadi kenangan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kita, saya yakin cerita diatas bisa menjadi kenangan dan pengalaman berharga bagi yang mengalaminya (^_^)

Unknown mengatakan...

saya terharu bgt membaca artikel ini,teringat masa lalu sama persis dengan yg saya alami,alhamdllh skg udh membaik namun masih berjuang...semangat yaa....thank's da berbagi !!

Unknown mengatakan...

Saya baru di fonis mengidap bipolar, yg Saya rasakan hampir sama dengan cerita diatas, bedanya Saya merasa kalau seakan akan Saya ini pembawa sial terhadap keluarga, setiap ada keluarga yg meninggal Saya selalu menyalahkan diri Saya sendiri, sangat tersiksa rasanya, bagaimana ketika Saya sedang bahagia dan bersemangat Tapi keesokan nya Saya akan murung dan bersedih tanpa sebab, Saya malu jika ada sewaktu waktu teman dekat Saya ada yang Tau tentang hal ini

Posting Komentar

Silakan sampaikan pendapat anda di komentar.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Ebook "Berdamai Dengan Bipolar"

Bagaimana mengenali dan mengatasi Gangguan Bipolar?
Bagaimana menanggapi sikap negatif orang-orang di sekitar anda?
Jika orang yang anda cintai mengalami Gangguan Bipolar, Apa yang sebaiknya anda lakukan?

Ebook ini memberi jawaban dan solusi alternatif penanganan Bipolar.



Buku "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah"
Psikomemoar Seorang Bipolar

Buku ini bercerita tentang pergumulan saya selama bertahun-tahun dengan problem psikis yang tidak saya fahami. Yang membuat saya terus bertanya-tanya, “Apa yang terjadi dengan diri saya? Penyakit apa yang saya alami? Bagaimana cara mengatasinya?” Ironisnya, saya justru baru tahu apa yang terjadi dengan diri saya, 8 tahun setelah saya bisa melepaskan diri dari belenggunya.

Buku ini bukan hanya bercerita tentang pengalaman psikologis, tapi tentang perjuangan seorang anak petani untuk mewujudkan impiannya, Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah.

Sinopsisnya silakan baca di sini.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code